menemukan baca buku
https://pixabay.com/id/photos/baca-membaca-buku-pembaca-1342499/

Sastra tidak hanya sebatas tulisan pada selembar kertas, tetapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Hakikatnya sebagai bentuk ungkapan ekspresi dan pikiran, kehadiran sastra membawa pengajaran, petunjuk, dan refleksi. Bahkan dalam proses kreatifnya, sastra mampu membawa seseorang menemukan jati dirinya. Bagaimana bisa?

menemukan jati diri
https://mojok.co/esai/metamorfosis-masyai-candra-malik/

Dalam pelukan udara yang entah begitu dingin kala itu, saya pasang telinga tajam-tajam dan mata yang melek sepenuhnya di hadapan laptop dan smartphone yang sedang menampilkan pertemuan daring Ngaji Jilid II. Tepatnya tanggal 14 April, kegiatan yang kemarin telah saya ikuti, kemudian saya lanjutkan hingga pada penghujung hari kala itu. Dengan tema pembahasan yang berbeda pula dari hari-hari sebelumnya, yakni seputar “Sastra Sufistik” yang akan dijelaskan oleh Candra Malik, sastrawan yang memulai karir kepenulisannya pada awal tahun 2000, sebagai pemateri.

Ketika melihat poster, pertanyaan sekelebat muncul di benak saya, “Apa itu sastra sufistik?”. Jenis sastra tersebut memang pernah saya dengar di salah satu mata kuliah yang saya empu. Sedikit pembahasan sastra sufistik pernah disenggol oleh salah satu dosen. Namun demikian, sastra sufistik masih menjadi pertanyaan besar bagi saya dan mungkin juga bagi orang lain.

Acara dimulai dengan sebuah pengantar, “Sastra itu pengalaman-pengalaman masing-masing. Sesungguhnya tidak ada teori yang benar-benar tepat digunakan untuk kepenulisan yang bersifat personal. Justru akan tepat menemukan kejatidirian ketika berhasil melepaskan imajinasi.”

Sastra tidak melulu tentang teori, sejatinya berkaitan dengan sikap hidup dan pengalaman-pengalaman kebatinan yang dibutuhkan dalam proses kreatif sastra. Pengalaman-pengalaman itu, yakni tempaan-tempaan dari penolakan maupun komentar pedas yang harusnya dibutuhkan dalam menulis sastra.

Kita sering mendengar istilah pendidikan dan mengajar. Satu sama lain itu saling menyatu dan berkaitan. Pendidikan itu keras, sedang mengajar itu lembutan. Kelembutan itu baik, namun ketika hendak membangun sesuatu yang dibutuhkan adalah pendidikan yang keras. Bagai membangun rumah yang membutuhkan pekerjaan yang keras dan diakhiri dengan kelembutan,”tukas sastrawan yang akrab dipanggil Gus Candra itu.

menemukan sufistik

Syarat utama dalam menulis sastra adalah kejujuran. Jujur merupakan syarat kehidupan, terutama pada diri sendiri. Sastra, khususnya puisi, bukan sekadar seni mempermainkan kata, mengindahkan kalimat, mengatur rima dan irama. Sastra adalah bahasa diri, bahasa jiwa yang mengekspresikan pengetahuan dan kesemestaan kita.

Tujuan menulis sastra adalah untuk menulis sastra itu sendiri. Mengutip dari Pramoedya Ananta “menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Maknanya, kita tidak perlu terlalu berharap pada tanggapan-tanggapan para pembaca. Sering kali penulis, terutama pemula, merasa jatuh di titik di mana karyanya tidak dimuat, tidak dibaca sama sekali, atau tidak diterima. Nyatanya, pikiran itu hanya membuang waktu.

Sepanjang membutuhkan pengakuan, sepanjang itu pula mungkin masih belum waktunya menulis sastra”, terang Gus Candra.

Sejatinya pengakuan itu tidak mudah dihapus, butuh waktu seumur hidup. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan usia maka pengakuan itu bisa terhapus, bahkan dengan sendirinya. Semakin lama keterampilan akan mengendap dan pada titik tertentu akan mencapai, jika kata Gus Candra, apa yang disebut orang-orang tasawuf sebagai Al-Arif bilah, yaitu orang bijaksana karena bersandar kepada Tuhan.

Hakikatnya, menurut Gus Candra, sastra sufistik adalah sastra insaniyah yang mendekatkan kita pada hal-hal yang sifatnya ilahiyah. Seputar manusia dengan pengalamannya mendekatkan diri kepada Tuhannya, menemukan dirinya sendiri dengan berhadap-hadapan dengan Tuhannya.

Sastra sufistik membawa penulis mengenal dan menjadi diri sendiri.  Dengan jujur kepada diri sendiri akan menjadikan karya kita mampu membawa pembaca seakan merasa relate dengan apa dirinya atau apa yang dialaminya. Berkaryalah dengan jujur dan sederhana.

Puncak kesempurnaan itu adalah kesederhanaan. Kesederhanaan itu adalah puncak kesempurnaan. Maka semakin sederhana, semakin mendekati kesempurnaan,” jelas Gus Candra. Namun demikian, kesempurnaan hakiki hanya dimiliki Tuhan Semesta Alam.

menemukan baca buku
https://pixabay.com/id/photos/baca-membaca-buku-pembaca-1342499/

Begitulah kiranya wawasan yang saya petik pada penghujung kegiatan Ngaji Jilid II kala itu. Diskusi yang telah berlangsung kurang lebih dua jam itu, telah membuka pintu interpretasi baru terhadap menulis dan sastra sufistik. Meskipun sayup-sayup mata seakan ingin menutup, entah mengapa, namun perbincangan bersama peserta dan Gus Candra kala itu memberikan satu hal yang saya garis bawahi bahwa menulis sastra itu tidak butuh pengakuan karena sifat sastra yang mana membebaskan siapa pun dalam berekspresi.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

1 KOMENTAR

  1. […] Sastra pada hakikatnya tidak dapat lepas dengan kehidupan manusia. Keberadaannya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Sastra tidak hanya menjadi hati, namun menjadi jantung bagi imajinasi dan kreativitas seseorang. Bukan hanya sekadar keindahan yang semata dinikmati, namun juga refleksi bagi diri. Warna-warni sastra bisa dijumpai dalam berbagai wujud, salah satunya dalam novel. […]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini