Emotional Blackmail

Dalam sebuah relasi hubungan, khususnya hubungan semacam pacaran atau bahkan rumah tangga, perilaku pasangan merupakan sesuatu hal yang terkadang tidak bisa selalu kita kontrol. Dalam beberapa situasi, kita mungkin akan mengalami perilaku yang kurang mengenakkan dari pasangan.

Satu dari sekian banyak perilaku tersebut adalah Emotional Blackmail. Kamu masih belum mengerti tentang apa itu Emotional Blackmail?

Melansir dari popbela.com, secara sederhana emotional blackmail merupakan sebuah kondisi saat kamu sering mendapatkan ancaman dari pasangan. Mulai dari ancaman yang ringan hingga taraf ancaman yang bisa membahayakan nyawamu sendiri. Hal ini dilakukan untuk membuat dirimu patuh atau pasanganmu ingin membuatmu patuh kepada dirinya dalam sebuah hubungan.

Dalam situs Heatline, istilah emotional Blackmail dicetuskan oleh Susan Forward yang merupakan seorang terapis psikologis, penulis dan tenaga pengajar pada tahun 1997. Ia mengatakan bahwa istilah ini mengacu pada tindakan manipulasi di mana seseorang memanfaatkan perasaan pasangan mereka sebagai cara untuk mengendalikan atau mengontrol perilaku dengan secara halus untuk melakukan sesuatu dengan cara mereka. Istilah ini juga terkadang disebut sebagai pemerasan emosional karena memang menggunakan peran emosi dalam tindakannya.

Beberapa Tahapan Emotional Blackmail.

Tahapan-tahapan dalam perilaku seseorang yang melakukan sebuah emotional blackmail memang sedikit susah untuk dideteksi, akan tetapi Susan Forward menjelaskan ada beberapa tahap yang lazimnya dilakukan dalam kondisi ini.

Demand

Para pelaku emotional blackmail atau yang lebih dikenal dengan istilah emotional blackmailer ini akan meminta korbannya untuk melakukan sesuatu dengan cara mereka. Dalam beberapa kasus hal ini tidak dilakukan secara ucapan atau non-verbal, umumnya akan dilakukan dengan mengungkapkan gestur atau memainkan mimik.

Resistance

Pelaku akan merasa senang jika tidak ada tindakan perlawanan atau penolakan dari si korban karena mereka mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Lazimnya ini dikarenakan strategi emotional blackmail berlaku ketika korban berkata tidak pada permintaanya. Dalam fase ini korban akan mulai merasa terpojokkan.

Pressure

Apabila pelaku belum mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka umumnya  akan lebih bersikeras memintamu untuk melakukan hal sama. Mereka akan menciptakan ilusi rasa takut dan rasa bersalah terhadapmu, lazimnya dengan cara memberi tekanan yang menunjukkan bahwa korbannya adalah orang yang egois, tidak rasional, atau bahkan “sisi antagonis” dalam sebuah hubungan tersebut.

Threats

Para pelaku ini akan melakukan tindakan ancaman jika mereka tidak kunjung mendapatkan apa diinginkan. Ini dapat berujung akan menimbulkan rasa ketidakbahagiaan, tidak nyaman, atau rasa sakit maupun menyesal bagi korban. Mereka menciptakan sebuah situasi di mana korban merasakan bertanggung jawab atas sesuatu yang akan terjadi pada mereka, meskipun itu tidak nyata. Ancaman yang pelaku utarakan dalam hal ini bisa berwujud ancaman secara langsung dan maupun ancaman tidak langsung.

Para pelaku dari emotional blackmail ini secara garis besar memainkan tiga aspek psikologis dari korbannya. Pertama, Fear (rasa takut), kedua, Obligation (kewajiban), dan yang ketiga adalah Guilty (rasa bersalah). Umumnya ini disingkat dengan nama F.O.G.

Strategi S.O.S Dalam Menghadapi Serangan Emotional Blackmail.

Dalam mengatasi serangan dari emotional blackamail, cara yang paling lazim digunakan adalah S.O.S atau singkatan dari Stop, Observe, Strategy. Langkah pertama yakni kamu harus berhenti sejenak atau Stop, jangan terburu-buru mengambil sebuah keputusan atau langsung menuruti kemauan pelaku yang terindikasi melakukan emotional blackmail. ambil jeda waktu sejenak untuk berpikir sembari mempertimbangkan hal-hal yang relevan.

Berikutnya, kamu harus melakukan observasi atau identifikasi (Observe) terhadap pikiran, reaksi, emosi dan ketakutanmu. Hal ini sangat penting agar dirimu berhak untuk menentukan pilihan atau keputusan apa yang paling tepat untuk dirimu sendiri dalam menghadapinya. Terakhir yakni atur strategi (Strategy) dalam menganalisa tuntutan dan dampaknya bagi dirimu.

Kamu harus mempertimbangkan resiko yang dapat muncul jika mengikuti kemamuannya terus-menerus. Hal ini juga jadi pertimbangan untuk berbicara kepada orang lain atas permasalahan yang menimpamu dengan pelaku emotional blackmail tersebut.

Nah, itulah sedikit tentang Emotional Blackmail dan cara mengatasinya. Semoga sedikit info ini dapat bermanfaat bagi dirimu dalam menghadapi situasi yang serupa.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleHati Suhita: Hati yang Patah dan Problem Domestik Pesantren
Next articleBusana
Mahasiswa asal Surabaya. Gemar menjelajahi sudut terpencil dari sebuah daerah dan menuangkannya dalam goresan pena.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here