sastra
Sumber foto: Kompas.com (Ilustrasi cover novel Gadis Kretek)

Narasi tentang peristiwa G30S lumrah disajikan dalam buku pelajaran sejarah dan berbagai film dokumenter. Berbeda hal dalam sudut pandang sastra yang masih jarang diketahui. Ini beberapa karya sastra novel yang membahas peristiwa G30S.

Ronggeng Dukuh Paruk

Pada novel ini kita akan diberikan wejangan  budaya dan pitik jadi satu. Menggunakan latar kisah pada tahun 1960-an terdapat desa kecil yang sedang mengalami kemiskinan.

Keadaan ekonomi tersebutlah yang membuat seorang penari ronggeng yang bernama Srintil harus bertahan hidup dengan cara apapun.

Novel ini sudah sempat difilmkan yang dibintangi oleh Prisia Nasution sebagai Srintil dan Oka Antara sebagai Rasus, teman masa kecil Srintil yang menjadi tentara.

Novel ini banyak mengangkat potret kemiskinan rakyat pada saat itu.  Digambarkan pula, bagaimana kehancuran dukuh Paruk karena isu politik yang memilukan.

Novel fenomenal ini sudah dicetak dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa dari beragam negara.

Menceritakan sosok Srintil, seorang ronggeng baru di Dukuh Paruk. Bagi pedukuhan yang miskin, terpencil dan bersahaja ini, ronggeng membuat kehidupan kembali menggeliat. Srintil menjadi tokoh yang amat digandrungi karena cantik, menggoda, dan semua ingin menari bersamanya. Sayang, karena hal itu malah membuat Srintil harus rela menjadi objek seksualitas. Kebebasannya menjadi perempuan pun berakhir kala itu.

Peristiwa politik di tahun 1965 juga membuat dukuh ini hancur, baik secara fisik maupun mental. Mereka terbawa arus dan di cap ikut andil dalam peristiwa tersebut. Pengalaman pahit ini membuat Srintil sadar akan hakikatnya sebagai manusia. Karena itulah ia berniat memperbaiki citra diriny

 

Cantik itu Luka

Novel yang memiliki alur cerita maju mundur ini juga memberikan unsur-unsur magis di dalamnya. Cantik itu Luka mengambil latar cerita pemberontakan tahun 1965.

Berkisah seorang wanita cantik bernama Dewi Ayu yang merupakan keturunan Belanda yang juga jadi korban dari perebutan kekuasaan dan juga kekejaman saat perang.

Novel ini menceritakan nasib para anak-anak yang menjadi korban kekuasaan dan kutukan, salah satunya anak terakhir dari Dewi Ayu. Kita akan dibuat tertawa getir pada tiap cerita yang disajikan.

Novel dari Eka Kurniawan ini pernah masuk longlist Khatulistiwa Literary Award tahun 2003 dan mendapatkan penghargaan World Readers pada 2016.

Tentang seorang perempuan cantik keturunan Belanda bernama Dewi Ayu, yang menjadi korban kekejaman perang dan perebutan kekuasaan.

 

Blues Merbabu

Gitanyali, sang tokoh utama, digambarkan sebagai sosok yang cinta kebebasan. Sebagai bagian dari produk sejarah yang kelam, dicap sebagai keturunan PKI yang konon terpinggirkan, Gitanyali bahkan terkesan tak ingin berlarut dalam label politik itu. Ketika kedua orangtuanya “dijemput” serombongan orang yang membawa senapan tahun 1965, misalnya, dia memilih tetap fokus belajar, seperti pesan orang tuanya ketimbang memikirkan capnya sebagai anak PKI. Walaupun terkesan cuek, label PKI mau tak mau juga tetap mempengaruhi mentalnya. Buktinya Gitanyali bersyukur ketika akhirnya bisa keluar dari kampung halamannya, kaki Gunung Merbabu. Dengan begitu label politiknya itu bisa dia lepaskan.

Jakarta, tempat hijrahnya pertama kali, dianggapnya sebagai tempat pembebasan. Di sanalah Gitanyali menjalani hari-harinya sebagai anak muda normal yang ikut larut dalam zamannya. Latar PKI dipakai sekaligus dilepaskan, menunjukkan bahwa keturunan PKI tak selalu terpinggirkan seperti yang selama ini kita tahu, dan bahwa tak selalu produk sejarah itu mempengaruhi hidup seseorang. Kalaupun mempengaruhi hidup Gitanyali, setidaknya tak membuatnya tersingkir dan merana, meratapi nasib jadi anak PKI.

 

Gadis Kretek 

Novel yang diterbitkan tahun 2012 ini mengangkat kebudayaan Jawa tentang pergerakan pabrik kretek di Indonesia. Sama seperti novel sebelumnya, novel ini juga mengambil peristiwa 30 September 1965 sebagai latar cerita.

Penyampaian cerita pada novel ini ringan tidak terlalu sulit untuk dipahami. Cerita dalam novel ini memberitahu kita bahwa orang yang tidak mengerti politik bisa jadi korban aparat berwenang.

Masa di mana partai Komunis dan semua jaringan di dalamnya ditangkap, ditembak, dan dibuang tanpa ampun.

 

Amba

Karya sastra novel ini mengisahkan kisah cinta, sejarah, dan juga politik pada tahun 1965. Pulau Buru adalah saksi bisu bagi kisah tragedi Amba dengan Bhisma pada bulan September 1965.

Pada tiap cerita kalian akan dibuat merinding. Ketidaktahuan membuat orang-orang dituduh sebagai komunis dibantai tanpa ampun.

Novel ini diterbitkan di tahun 2012 dalam bahasa Inggris dengan judul The Question of Red dan sempat mendapatkan sebuah penghargaan dalam festival bergengsi di Jerman jenis keynote speaker.

Amba merupakan kisah tragedi yang disampaikan melalui kisah cinta, dari Amba dan Bhisma di hari-hari mencekam pada bulan September 1965, yang dipaksa harus berpisah karena situasi politik. Di mana hingga satu juta orang yang dituduh sebagai Komunis di Indonesia dibantai.

Kamu akan melihat gambaran kehidupan tahanan yang diasingkan di Pulau Buru. Laksmi mengajak kita memahami yang sebenarnya terjadi, dari sudut pandang mereka yang tidak sepenuhnya mengerti bahwa Pulau Buru mungkin adalah saksi bisu mereka yang diburu.

 

Pulang

Bercerita mengenai mantan wartawan yang terkena kasus lantaran menyinggung mengenai birokrat saat itu. Novel dari Leila S. Chudori ini merupakan salah satu novel yang menggunakan pemberontakan G30S/PKI sebagai latar hingga berpuncak pada reformasi 1998.

Novel ini menceritakan tentang 4 orang Indonesia yang pergi ke negara lain dan mendirikan restoran masakan Indonesia di paris. Mereka adalah para wartawan yang mencari tahu titik sensitif politik saat zaman itu.

Mereka meninggalkan Indonesia bukan tanpa sebab, mereka takut ditangkap dan pulang dalam keadaan tidak memiliki nyawa seperti teman-teman wartawan lain.

Pergi sejauh mungkin agar tetap hidup membuat mereka sering sekali merindukan keluarga, rumah, saudara-saudara di Indonesia. Namun, untuk pulang ke Indonesia banyak sekali tantangan ketidakadilan.

 

Cerita Cinta Enrico

Novel ini disebut-sebut oleh Ayu Utami sebagai novel kisah nyata. Sesuai judulnya, novel ini sebenarnya novel tentang cinta yang di bagi ke dalam tiga bagian meliputi: Cinta Pertama, Patah Hati, dan Cinta Terakhir?

Pada bagian Cinta Pertama inilah, kita sebagai pembaca akan memasuki dan turut mengalami hari di mana pemberontakan militer pecah. Cinta pertama yang dimaksud di sini adalah cinta Enrico pada ibunya, yang membawanya masuk ke hutan belantara sejak masih orok.

 

65

Buku sastra ini menceritakan mengenai memori dan juga perjalanan hidup seorang anak yang orangtuanya adalah eks-PKI. Novel ini akan membawamu ke Jakarta, Jawa tengah, dan Bangkok sampai Hongkong.

Anak tersebut ingin bebas dari stempel PKI yang diberikan pada orangtuanya. Ia pergi ke  kaki gunung Merbabu dan tidak ada lagi cap bekas PKI tersebut.

 

September 

Karya sastra novel terakhir yang mengambil latar peristiwa tragedi September 1965 ini diterbitkan pada tahun 2006. Sempat dikabarkan bahwa nama tokoh dan tempat pada novel ini sebenarnya menggunakan nama asli yang diubah dengan metode anagram.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleLilin-Lilin untuk Mereka yang Gugur di Kanjuruhan 
Next article7 Rekomendasi Film Romantic Comedy Terbaik
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Panda insomnia penyuka irama, cerita, dan kata-kata indah penggugah rasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here