Ruang Perkopian
Filosofi ngopi

Lampu gantung antik itu tiba-tiba menyala, derap langkah kaki semakin sering terdengar menandakan orang berjalan naik menuju lantai dua. Bangunan kayu itu cukup rentan terhadap sentuhan yang menghasilkan suara.

Seorang  pemuda tak begitu sadar bahwa hari sudah beranjak malam. Dari sekitar pukul dua siang, ia tampak sibuk mengetik tulisan, dengan beberapa tumpuk buku di sampingnya. Sesekali ia membetulkan posisi colokan listrik yang menyambung ke adaptor laptop. Memang jumlah stop kontak disana tidak banyak, sedangkan ruangannya cukup luas. Ada dua kabel olor tergeletak di sebelah stop kontak dibawah ubin kayu, namun keduanya tidak bisa dipakai. Tata letak ruangan itu sedikit menyulitkan pengunjung yang ingin mengisi baterai alat elektroniknya.

Fokusnya menjadi sedikit terganggu karena suara bising pengunjung lain yang berdiskusi, dan sesekali bergurau. Ada juga dua orang perempuan duduk bersampingan menghadap luar ruangan. Melihat pemandangan beberapa petak sawah yang kosong dari atas. Biasanya tepat di bawah bangunan ini ditanam pohon jeruk, barangkali terlihat kosong karena masih proses penyemaian benih. Dari raut wajahnya, pembicaraan mereka tampak lebih serius. Tatapan mata tajam, serta gerakan tangan yang khas, mereka terlihat saling menjelaskan sesuatu.

Beberapa gelas kaca terlihat tepat diatas meja pengunjung. Mereka sesekali menyeruput minuman, dan mengecek gawai di sela-sela pembicaraan. Minuman dalam gelas kaca tersebut mempunyai beragam warna, menunjukan selera orang yang berbeda-beda. Ada beberapa varian menu utama : serba serbi kopi, non kopi, snack dan makanan. Tepat di samping kiri laptop pemuda pertama, di sajikan kopi yang diseduh dengan dripper Vietnam bersama krimer kental manis. Orang biasa menyebut kopi Vietnam drip.

Hari beranjak malam membuat suasana semakin dingin. Pemuda itu lalu mengambil jaket  hoodie hitam dari dalam tasnya, lalu memakainya. Musim pancaroba, atau pergantian antara dua musim memang membuat cuaca akhir-akhir ini tidak  menentu. Udara dingin bisa sampai 14 derajat celcius di malam hari. Mengharuskan orang yang keluar rumah selalu siap sedia pakaian penghangat.

Pemuda itu tetap melanjutkan pekerjaannya, tanpa berlebihan mereken suara riuh pengunjung lain yang semakin ramai berdatangan.

Perkopian

Perkopian, berbagai hal yang berhubungan dengan kopi selalu memunculkan banyak tafsiran. Ngopi tidak  harus nongkrong di warung kopi, cukup menyeduh kopi sendiri dirumah, sudah bisa disebut ngopi. Ada yang mengejek “ ngopi kok malah pesennya teh”, “ngopi kok malah sibuk dengan gawainya”,  dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah memang. Ngopi tidak selalu berujung pada pembicaraan intens, yang serius. Ngopi juga bukan aktivitas kaku yang mengharuskan pengunjung melakukan satu aktivitas spesifik.

Layaknya negara demokrasi, perkopian adalah ruang publik yang menjunjung tinggi kebebasan. Perkopian menghormati hak atas pilihan pribadi masing-masing. Jika ada yang mengejek orang ngopi malah pesen teh, berarti belum dewasa cara berpikir demokrasinya. Begitulah kira-kira.

Jika coklat  melambangkan kelembutan hati, maka kopi dengan warna hitam pekatnya adalah simbol dari ketegasan. Menjamurnya perkopian adalah bagian dari ketegasan pilihan masyarakat untuk tidak melulu bergantung pada pihak lain, misalnya pemerintah. Kopi juga menegaskan bahwa pemuda pertama betah menghadap laptop berjam-jam untuk menyelesaikan pekerjaan, terlepas dari kadar kandungan kafein kopi yang diminum.

Dalam ruang perkopian, terdapat berbagai macam pola yang menarik. Mengamati perilaku orang, bahwa para pengunjung  datang dengan wacana mereka masing-masing. Perkopian ada bukan hanya untuk mengisi waktu luang. Kopi selain menghadirkan bentuk fisiknya juga memunculkan aspek rasa. Baik rasa dalam arti pahit manis kopi, serta rasa dari emosi para penikmatnya. Kopi, rasa, dan perkopian menjadi dipadukan dalam kompleksitas suasana ruang.

Tak berselang lama, pemuda tersebut menutup laptopnya, memasukkannya dalam tas selempang berwarna hitam. Ia cukup kesulitan memasang resleting tas karena barang yang dimasukkan cukup banyak. Pemuda tersebut lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan, menuju ke bawah menuruni tangga.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleDemokrasi Tanpa Nalar
Next articleMemancing Bersama Ernest Hemingway
Saat ini aktif di Malang Corruption Watch (MCW), yang beralamat di Jl. Joyosuko Metro No. 42, Merjosari, Kota Malang. Lebih lanjut, penulis dapat dihubungi melalui telepon dan WA: 085831437530, serta melalui alamat email ahmadadi353@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here