tragedi kanjuruhan

Dhoni adalah salah satu suporter sepakbola Arema (Arek-Arek Malang), yang ikut menonton pertandingan pada 1 Oktober 2022. Dengan rasa gembira dan penuh semangat yang berapi-api, Dhoni mengitari jalan menuju stadion Kanjuruhan untuk mendukung klub kesayangannya itu. Apalagi pertandingan tersebut, akan melawan musuh bebuyutan Arema, yakni Persebaya. 

Padahal Dhoni tak diporbolehkan nonton oleh ibunya. Ibunya takut terjadi apa-apa. Apalagi umurnya sangat muda sekitar 13 tahun. Namun, tekadnya tetap bulat untuk menonton pertandingan itu. Maka, berhasillah ia memujuk ibunya tuk bersedia memberikan izin, dan pertama kalinya pula ia  menonton pertandingan Arema secara langsung. 

Dia berangkat dengan kawan-kawan sesama suporter Arema dengan menggunakan syal bertulisan Arema yang berwarna biru. Syal itu diputar-putarkan selama perjalanan menuju stadion Kanjuruhan sambil menyanyikan “Salam Satu Jiwa”. Sesampainya di stadion Kanjuruhan, ia duduk di tribun 13, di mana setiap tribun sudah dipenuhi dengan suporter Arema, dan tidak ada sama sekali suporter lawan yang terlihat. Sebab, ada larangan soal itu untuk menghindari kekacauan. 

Ketika pertandingan dimulai suara-suara suporter semakin bersemangat untuk mendukung klub kesayangan mereka. Ada yang mendukung dengan cara bernyanyi, bersorak, hingga suara umpatan yang kadangkala tak terlihat elok, namun punya kekuatan magic  yang luar biasa. Mungkin itulah cara bagaimana mereka mengekspresikan kecintaan mereka terhadap Arema FC. Hal itu pun terjadi pada Dhoni yang tak henti-hentinya bersorak, dan tak mengenal kata lelah tatkala melihat klub kesayangannya itu berlaga. 

Namun, di babak akhir pertandingan harapan suporter Arema tak berujung baik. Arema kalah melawan Persebaya dengan skor 2-3. Kecewa betul, namun tak sedikit pun mengurangi kecintaan suporter kepada klub tersebut. Mereka mengekspresikan kecintaan tersebut dengan turun ke lapangan untuk memberikan semangat kepada para pemain Arema. Namun nahas, hal itu dinilai berbeda oleh penegak hukum yang punya fungsi mengamankan dan memberikan arahan. Para penegak hukum itu malah mereka mengganggap suporter yang turun akan membuat onar. Alhasil, mereka ditendang, diinjak, hingga dipukuli seperti penjahat saja. Saat itulah kemarahan suporter lainnya muncul hingga keadaan tak terkendali, sebab perbuatan represif aparat.

Lambat laun, tribun bagian 10 sampai 14 menjadi lautan awan putih. Ternyata para petugas menyemprotkan gas air mata ke wilayah tersebut, padahal tribun tersebut dipenuhi orang tua, balita, anak-anak, dan kelompok remaja, dan salah satunya adalah Dhoni. Gas air mata itu digunakan untuk mengamankan. Kekacauan semakin tak terkendali. Semua kalang kabut sebab semprotan gas air mata. Ternyata, gas tersebut berdampak fatal. Dhoni melihat teman sebayanya pingsan, ada pula yang sesak nafas. Dhoni mencoba berlari dan menghindari gas tersebut walaupun dia juga kesulitan melihat dan bernafas. Dia meraba-raba menuju pintu keluar. Tapi, pintu tertutup dan Dhoni tak mampu keluar. Di pertengahan jalan menuju gerbang, nafasnya tersendat-sendat dan penglihatannya kabur, ia pun terjatuh. Nyawanya tak tertolong lagi. 

Berita mengenai kekacauan pertandingan Arema VS Persebaya tersiar di mana-mana. Pertandingan itu berakhir ricuh hingga memakan korban jiwa dengan jumlah yang fantastis. Ibu Dhoni gemetar mendengar berita itu. Badannya mengeluarkan keringat dingin dan suara jantungnya tak bisa ia kontrol.

“Mas, anak kita,” kata Ibu Dhoni dengan suara yang amat lirih dan penuh ketakutan.

“Sudah, ibuk tenang dulu. Inshaallah tidak akan terjadi apa-apa,” kata suaminya menenangkan si ibu.

“Bagaimana, ya pak, nasib anak kita,” katanya sambil memegang gawai berusaha menghubungi Dhoni.

“Tenang ibu,”

“Tidak ada balasan, Pak,” kata sang Ibu semakin khawatir dengan nasib Dhoni.

***

Ibu Dhoni menunggu kedatangan Dhoni, sedangkan ayah Dhoni bergegas menuju stadion Kanjuruhan. Ibu Dhoni, tak henti-hentinya menghubungi Dhoni melalui ponsel, tapi tidak pernah ada balasan. Sekali-kali ia menelpon si ayah menanyakan apakah Dhoni sudah ditemukan. Namun, sejak menjelang pagi hingga jarum jam menunjukkan pukul 11.00 pun belum ada tanda-tanda kabar Dhoni. Hingga, si Ibu turut untuk serta mencari keberadaan anaknya. 

Orang tua Dhoni berusaha mencari Dhoni dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.  Tepat pukul 14.30 WIB, Dhoni ditemukan dengan kondisi tak bernyawa di rumah sakit Saiful Anwar Kota Malang. 

Remuk hati ibu Dhoni melihat anak yang telah dikandungnya selama 9 bulan sudah tak bernyawa. Tak bersuara, hanya tatapan kosong yang menatap anaknya yang tak lagi bernyawa. Sedangkan Ayahnya tak berkata apa-apa, hanya memegang pundak istrinya. 

Selanjutnya, Dhoni dibawa ke rumah di mana iya tumbuh dan berkembang. Tetangga dan sanak keluarga berdatangan tuk mendokan jenazah Dhoni. Sedangkan ibunya tak menanggis pun tak berbicara, hanya menetap jenazah anaknya yang membujur kaku. Tak ada yang berani mengajaknya berbicara, bahkan suaminya.

Namun, tangisnya pecah tatkala jenazah Dhoni akan disemaikan dan ia memeluk anaknya sekuat mungkin. Siapa yang benar-benar rela kehilangan seorang anak?

“Jangan diambil!” teriak si Ibu.. 

“Jangan begitu ibu, istigfar! Harus direlakan,” tutur suaminya.

“Pak, dia anak satu-satunya kenapa begitu cepat ia meninggalkan kita. Ya Allah…” tangisnya tak terbendung dan mengundang tangis orang-orang yang melihatnya. 

“Sudah ibu, iklaskan,” 

“Siapa yang bertanggung jawab atas kehilangan anak kita, pak,” 

Siapa yang benar-benar bertanggung jawab atas kematian Dhoni akibat tembakan gas air mata itu? Siapa yang bertanggung jawab atas kesedihan ibu Dhoni? Apakah hanya cukup dibayarkan oleh uang? Apakah uang bisa menghidupkan nyawa yang telah hilang dan dapat menyembuhkan luka si ibu? Kita musti paham bahwa tidak ada sepakbola seharga nyawa manusia. 

Si ibu tetap menangis sambil memegang syal Arema, syal itu barang terakhir yang dikenakan anaknya untuk menonton pertandingan. Dan si ayah tetap menenangkan Ibu sampai selesai proses pemakaman. Taburan bunga di atas nisan diberikan oleh sanak keluarga. Dan hingga berakhir doa pun ibu tak beranjak pergi. 

“Nak, ibu letakan syal Arema ini, di atas nisanmu. Semoga kamu berkenan. Keinginanmu menonton sepakbola kesayanganmu itu, Arema FC, sudah ibu turuti. Selamat jalan, nak,” ucap si Ibu dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir dan membasahi wajah pucatnya itu.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini