Film Ngeri-Ngeri Sedap baru saja dirilis tanggal dua Juni kemarin. Pada hari pertama tayang, film ini berhasil menjadi trending topik bagi warga twitter. Film Ngeri-Ngeri Sedap merupakan film karya Bene Dion Rajagukguk yang didasarkan pada novel pertamanya dengan judul yang sama. Film bergenre komedi dengan latar belakang keluarga suku Batak ini dibintangi oleh Arswendy Beningswara Nasution, Tika Panggabean, Boris Bokir Manullang, Gita Bhebhita Butar-butar, Lolox, dan Indra Jegel.

Film ini mengisahkan keluarga Pak Domu, Mak Domu, dan keempat anaknya. Pak Domu menginginkan tiga dari empat anaknya yang sudah terlalu lama merantau untuk pulang. Namun, ketiga anaknya menolak karena mereka bertiga memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan ayahnya (Pak Domu). Rasa rindu Pak Domu terhadap ketiga anaknya membuat ia bekerjasama dengan istrinya (Mak Domu) untuk mengusun strategi yang “ngeri-ngeri sedap” untuk berpura-pura cerai agar ketiga anaknya mau pulang.

Film ini mengandung unsur budaya Batak yang sangat kental, ditandai dengan view danau toba yang dipilih menjadi latar tempat utama, lagu-lagu Batak yang diputar saat adegan-adegan tertentu, dan lain sebagainya. Walaupun film ini mengangkat konflik keluarga Batak, namun sebenarnya konflik yang diangkat dalam film ini cukup umum ditemukan di keluarga lain (selain Batak). Adanya konflik dalam film ini sebenarnya dapat menjadi sebuah pembelajaran bagi kehidupan masyarakat saat ini. Lalu bagaimana tanggapan masyarakat dengan adanya film Ngeri-Ngeri Sedap?

Dalam kanal youtube HAHAHA TV pada acara yang berjudul Ngeri-Ngeri Sedap: Capek Nangis Pas Editing- In Frame with Ernest Prakasa, para netizen beramai-ramai memberikan komentar mereka tentang tayangnya film Ngeri-Ngeri Sedap. Para Netizen menganggap bahwa film ini memiliki kualitas yang sangat bagus, tak sedikit pula yang mengatakan bahwa akting dari semua aktor sangat memuaskan.

Bahkan, beberapa netizen berkomentar, setelah menonton film Ngeri-Ngeri Sedap membuat air mata mereka bercucuran hingga menangis sesenggukan karena relate dengan kehidupan nyata. Di sisi lain, tak ada yang benar-benar mengkritik film ini, hanya ada satu sampai dua orang yang memberikan komentar dan masukan terhadap film ini. Komentar diberikan oleh salah satu netizen yang mengatakan bahwa “Film ini sangat bagus, tapi tidak relate untuk orang kayak aku yang gak ada ayah😊”.

Sementara itu, masukan/ saran yang terdapat dalam kolom komentar adalah tentang editing film, Menurutnya, adanya sekelebat angin yang datang di tengah adegan percakapan dalam beberapa scene agak sedikit mengganggu, walaupun sebenarnya tujuan dari pemberian angin tersebut adalah untuk menandai adanya pergantian topik yang dibicarakan.

 

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleGerakan Islam di Indonesia: Sebuah Refleksi dan Titian Jalan Menuju Kehidupan yang Lebih Baik
Next articleMeriahnya Ritus Upacara Budaya dan Kenduri Pancasila di Kota Blitar
Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Selalu menyukai dan menikmati apapun yang berkaitan dengan sastra.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here