luthfi j kurniawan

“Yu, punya garam? Saya minta ya. Ini masakannya kurang garam.” Inilah sepenggal dialog antar tetangga yang rumahnya berhimpitan di masa lalu. Bahkan saya pun masih teringat di masa kanak-kanak selalu disuruh ibu untuk mengantarkan makanan ataupun penganan kepada tetangga sebelah rumah. Saat itu kami masih tinggal di perdesaan pada sekitar tahun tujuhpuluhan hingga delapanpuluhan.

Di masa lalu interaksi antar tetangga begitu rukun dan nyaris tanpa terlihat ada persaingan maupun konflik. Pada kehidupan bertetangga di masa lalu, konsep kohesi sosial betul-betul terjadi karena masyarakat seolah berlomba-lomba untuk bisa saling memberi dan membantu dengan keinginan untuk dapat hidup bersama, sebagaimana tergambar dalam imajinasi potongan dialog di atas.

Dalam kehidupan masyarakat urban yang berada di daerah perkotaan padat, relasi yang terjadi seolah hanya sebatas formalitas. Tentu hal ini tidaklah sepenuhnya salah, karena kehidupan masyarakat “modern perkotaan” telah benar-benar terampas waktunya untuk bekerja, sehingga saat pulang ke rumah sudah tinggal lelahnya saja. Keadaan inilah yang kemudian memaksa seseorang tidak bisa lagi dengan leluasa untuk bertemu tetangga dengan kualitas yang baik. Kalaupun bertemu, hanya sebatas menyapa disaat berpapasan di gang kampung maupun di jalan komplek perumahan. Kalaupun ada pertemuan warga, itu pun biasanya adalah pertemuan atau rapat warga yang formal dan diselenggarakan oleh rukun tetangga. Demikianpun terkait pembahasannya, yaitu juga formal. Konsep kerukunannya telah bergeser seperti rapat-rapat di perkantoran.

Di masa pandemi covid, pola relasi yang seolah terkesan formalitas dan hanya sebatas memenuhi jadwal rapat telah memaksa warga di kampung atau di klaster perumahan berubah sedemikianrupa dengan cepat. Relasinya berubah ke karakter awal warga yang ingin saling membantu satu sama lain. Rupanya hingga saat ini dengan adanya pola perubahan perilaku dalam relasi antar tetangga yang dipicu pandemi, telah menjadi spirit baru dalam hubungan sosial suatu kampung, terutama yang terjadi pada kampung-kampung di perkotaan. Saat ini, khususnya di lingkungan perkotaan baik yang konsepnya kampung maupun sebuah klaster perumahan dalam bertetangga telah berubah, lebih humanis dan terlihat keakrabannya.

Tetangga beserta pernak-pernik masalah dalam relasi sosialnya, banyak terbantukan oleh institusi rukun tetangga yang seolah telah menjelma menjadi perekat sesama tetangga untuk menyatu. Bahkan tak jarang jika institusi ke-RT-an yang formal  mampu membangun rasa solidaritas yang menjadi basis utama dalam terbentuknya sebuah komunitas. Ini akan menjadi kohesi sosial yang sangat luar biasa.

Memang tidak bisa dimungkiri dalam relasi bertetangga tidak selalu selamanya berjalan baik, terkadang juga muncul konflik. Itu pun dipicu oleh hal-hal yang sangat sederhana, misalnya karena naik sepeda motor kecepatannya dianggap tinggi atau karena ada bongkaran atau sampah yang tidak terurus atau terlupakan karena saking sibuknya. Keadaan ini kadang menjadi pembicaraan dan rasan-rasan sesama tetangga atau disebabkan oleh hal-hal lain yang tergolong sederhana dan unik-unik bahkan konyol. Misalnya, saat berpapasan karena saking buru-buru berjalan dengan kendaraan kemudian lupa menyapa atau hal-hal lainnya yang memang betul-betul tidak terlalu serius.

Suka duka bertetangga memang telah memberikan pengalaman tentang konsep tenggang rasa. Jika kita kurang tepat memosisikan diri dalam bersosialisasi, berinteraksi dan kemudian dianggap salah, maka dianggap tidak punya tenggang rasa. Jika ini yang terjadi maka hal yang disebut kohesi sosial di atas tidak akan menjelma menjadi sebuah kekuatan bersama dalam membangun relasi dan kehidupan sosial. Sesuatu yang penting untuk menjadi suplemen dalam membangun kesehatan sosial antar tetangga.

Sebenarnya konsep bertetangga itu sangat sederhana. Tidak perlu rumit-rumit dalam membahasnya. Dalam bertetangga cukup bisa memosisikan diri untuk punya “rasa” terhadap tetangga sekitar rumah atau lingkungan dan yang paling penting membuang rasa egois dan menebalkan tenggang rasa. Sehingga tidak seperti judul drama komedi yang dulu pernah ditayangkan berseri oleh sebuah stasiun televisi dengan judul “Masak Tetangga Gitu”.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleRomo Mangun dan Burung-Burung Manyar
Next articleSastrawan-Sastrawan Angkatan 70
Pemerhati sosial & kemasyarakatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here