Buku Aku Menulis Maka Aku Ada (2020) merupakan buah karya yang ditulis oleh Kang Maman, yang namanya telah malang melintang di dunia kreatif dan tulis-menulis.

Buku ini membuat saya berekspektasi bahwa barangkali bisa saja saya mendapatkan ide, motivasi, atau tips dan trik untuk mengerjakan skripsi. Sebab menulis hakikatnya sama, walau bentuknya berbeda-beda. Ekspektasi liar dan nakal itu ternyata benar dan saya dapatkan seusai menamatkan halaman demi halaman tulisan kang Maman.

Melalui buku tersebut, semangat membaca dan menulis saya kian berkobar besar. Menjadikan beban pengerjaan tugas skripsi sebagai tantangan atau bahkan petualangan. Saya menyadari betul, bahwa skripsi adalah momok menakutkan bagi para mahasiswa semester akhir. 

Maka dari itu, lewat tulisan ini saya hendak membagikan sedikit insight menarik yang didapat dari buku tersebut, yang boleh jadi menjadi tips dan trik atau minimal penyemangat dan motivasi untuk mengerjakan skripsi.

Nge-BIR

Eits…jangan buru-buru negative thinking. BIR di sini merupakan singkatan dari Baca, Iqra’, Read. Baca, baca, baca! Sebab menulis merupakan proses membaca berulang-ulang. Tulis, baca, tulis, begitu terus berulang-ulang tanpa henti.

Hal ini didapat kang Maman dari firman-Nya yang tiada henti mengulang kata afala, afala, afala yang artinya apakah kamu tidak menggunakan akalmu? Apakah kamu tidak menelaah? Apakah kamu tidak berpikir?

Untuk mahasiswa skripsian yang mengaku kesulitan mencari judul, nulis skripsi, dan ditatap layar laptop berulangkali tanpa kunjung berjumpa dengan IDE, mungkin itu artinya kita masih kurang nge-BIR. Masih kurang baca!

Seperti yang dituliskan kang Maman dalam halaman 10, “Ingat, menulis itu membaca berulang-ulang, bukan memelototi kertas kosong 24 jam.”

Tulis Aja Dulu, Jelek Gak Papa!

Salah satu kesalahan yang kerap dilakukan ketika menulis, baik itu penulis artikel populer maupun ilmiah, adalah tidak menuliskan ide yang dimilikinya. Ide itu dibiarkan mengawang, lalu entah, tiba-tiba saja hilang sekelebatan.

Kata kang Maman dalam halaman 31, “Kepada para (calon) penulis di berbagai pertemuan, aku tak pernah bosan mengingatkan, jangan remehkan remah-remahan kata yang kau tulis. Jangan biarkan hilang. Catat, simpan, abadikan.”

Intinya, ide apapun yang terlintas, jangan sampai lolos! Tangkap lewat catatan entah di hp, kertas, lembaran atau bahkan sobekan. Sebab ide itu kadang-kadang seperti setan. Membayang-bayang menggoda khusyuknya sholat dan zikir pagi-petang. Kadang juga bak kawan yang mengajak bincang entah di jalan atau sedang bertapa di jamban.

Hal paling menarik, tentang ide, bahwa ide dapat datang dari mana saja. Sederhana, tapi kerap kali luput untuk disadari baik penulis maupun para mahasiswa semester akhir. Kerap kali ketika hendak memikirkan judul, banyak dari kita yang berpikir terlalu jauh, sampai lupa bahwa topik tulisan terbaik adalah yang paling dekat dan paling kita pahami.

Sebab sejatinya menulis adalah kerja jiwa, tugas suci, bahkan prasasti abadi bagi diri yang kesemua-muanya membutuhkan keterlibatan nurani. Dari sini, boleh jadi, kita perlu menata kembali hati. Bahwa skripsi bukan sekedar formalitas tugas untuk memenuhi syarat kelulusan, melainkan juga sebuah bentuk pengabadian juga pengabdian diri. 

Sebagai manusia, makhluk yang pada wahyu pertama yang diterimanya Allah perintahkan untuk membaca, membaca bukan sekadar aksara, akan tetapi juga lingkungan dan apa-apa yang ada di sekitarnya.

Verifikasi dan Mesin Si SuSi (Koreksi, Sunting, Revisi)

Setelah menyadari hakikat sebenarnya dari proses menulis, pentingnya mencatat ide apapun yang terlintas, kemudian menata hati tentang betapa suci nan agung tugas dari seorang penulis. Maka perangkat utama yang dibutuhkan adalah verifikasi. 

Pastikan semua yang kita tulis adalah valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai melakukan plagiasi atau mengambil referensi pada sumber yang tidak kredibel. Referensi dan rujukan yang tepat adalah pilar utama bagi seorang penulis untuk menelurkan karya-karyanya. Lebih-lebih lagi bagai mahasiswa.

Di lingkungan akademik, sungguh sebuah kesalahan fatal ketika penulis atau dalam hal ini adalah mahasiswa secara serampangan dan tanpa seleksi memakai referensi. Bahkan dalam dunia tulis menulis ilmiah, referensi pun masih harus dipilih dan pilah mana yang paling utama dan primer yang dapat dijadikan referensi.

Sehabis memastikan bahwa apa yang kita tulis bersumber dari data dan rujukan yang kredibel, maka perangkat selanjutnya yang dibutuhkan oleh seorang penulis adalah apa yang disebut kang Maman sebagai Mesin Si SuSi (Koreksi, Sunting, Revisi). Bahwa tugas penulis, selain membaca berulang kali, juga adalah menulis ulang tanpa henti. Memperbaiki tulisan yang dibuatnya dari waktu ke waktu.

Demikian pula seorang mahasiswa dalam mengerjakan skripsinya. Jangan sampai kita malas membaca ulang skripsi yang telah ditulis. Penting adanya untuk membaca ulang, menjadi editor bagi tulisan sendiri, bahkan memandangnya dari sudut pandang orang lain. Agar celah dan salah dapat dipilah lalu dipisah. Menyisakan tulisan terbaik dan gagasan paling logis untuk dipersembahkan dalam dunia keilmuan.

Buku ini cukup saya rekomendasikan bagi para mahasiswa yang tengah mengerjakan skripsi. Yang lagi pusing dan terbebani skripsi, coba saja baca buku ini. Entah akan menjadi motivasi, penyemangat, pelurus niat, atau sekedar hiburan lewat tulisan kang Maman yang unik, mengalir, bahkan kadang ada komedi dengan permainan kata. 

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleRekomendasi Toko Buku di Malang, Mahasiswa Tak Perlu Bingung
Next articleJean Epstein
Dwi Wahyuningsih, seorang perempuan yang lahir di Kab. Grobogan pada September 2002 dan besar di Kab. Kudus. Menggemari dunia literasi dan suka belajar hal baru, karena tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here