Bayi Ajaib

Beberapa pekan lalu, komunitas Jerit Nostalgia mengadakan layar tancap pinggir jalan. Salah satu film yang diputar, adalah Bayi Ajaib. Film hasil sutradara Tindra Rengat, yang rilis pada tahun 1982. Film ini memiliki lanskap unik, dibandingkan film dengan genre horor yang sama pada zamannya. Film Horor dalam dunia perfilman Indonesia, dalam catatan, memiliki unsur penguat dalam hal, komedi, seks, dan kekerasan. Dalam konteks film Bayi Ajaib, pada masanya, cenderung menihilkan unsur seksualitas, dan berbeda seperti film yang rilis dalam rentang sama yaitu Sundel Bolong.

Bayi Ajaib (1982) bercerita tentang arwah gentayangan Alberto Domenique, seorang penduduk Desa berdarah Portugis. Pada masa lalu, orang Portugis ini menguasai lahan yang luas yang diperuntukkan penambangan Intan. Kelak lahan kepemilikan ini, ingin kembali dikuasai oleh Dorman yang memiliki ikatan darah dengan Domenique. Dorman memanggil arwah moyangnya, tapi bukan kekayaan yang ia peroleh, melainkan tumbal tempat tumbuh kembalinya jiwa Domenique dalam tubuh seorang anak kecil di desa itu, yaitu Didi. Didi menjelma menjadi Domenique yang ingin membalas dendam kepada warga, dengan cara menyebar malapetaka lewat pembunuhan berantai. Pembunuhan yang ia lakukan, itu dilakukan melalui kesaktian Domenique.

Film ini mengandung kekerasan, minim seksualitas, dan tanpa komedi. Apa sebetulnya yang menonjol pada film ini, adalah keunikannya membawa narasi tentang ketakutan. Dominique orang asing, menguasai lahan, dihukum gantung oleh Warga. Muatan gagasan penceritaan film ini, terletak pada bagaimana Dominique, dicitrakan sebagai orang asing yang merugikan. Semangat ini persis seperti karya-karya yang lahir pada tahun 45’ keatas. Hanya saja, gagasan ini Tindra terjemahkan dalam bentuk film Horor. Bagaimana dengan yang magis?.

Apa film ini, sama seperti genre kesenian dari Amerika Latin yang biasa disebut Realisme Magis? Tidak. Nuansa ketakutan, dalam ekspresi “hantu” dalam film ini digambarkan sebagai citra yang apa adanya. Seperti ketika seorang berkata, “sikapmu seperti iblis”. Maka “jadilah ia Iblis yang sebenarnya”. Bukan Iblis sebagai metafora. Dalam rentang tahun ketika Bayi Ajaib muncul, hantu-hantu semacam ini menguasai cara penceritaan ketakutan dalam pegalaman manusia.

Ketakutan dalam film-film horor manusia, bila mengacu pada Freud, adalah semacam endapan kesadaran yang tertekan. Endapan yang tidak tersuarakan, terkumpul di bawah, dan tidak memiliki saringan suara keluar. Ketakutan ini, sama seperti proses kreatif manusia Indonesia menciptakan karakter-karakter Dewa dalam kisah perwayangan. Maka dari itu, ketakutann terhadap orang asing, orang lain, dengan emosi yang paling marah sekalipun, bukan dibentuk untuk mampu sekedar melawan, tapi Dominique dibentuk sebagai tokoh yang balas dendam dalam sosok hantu berkepala besar, tubuh bayi, dan bisa terbang.

Sepanjang kisah dalam Bayi Ajaib (1987), sebenarnya hanya menggambarkan metafor asing ke dalam bentuk sinema. Pada masanya, unsur berlebihan tiga pasak industri komedi, seks dan kekerasan menjadi racikan ampuh. Bayi Ajaib keluar dengan naskah dan sinematik yang unik. Hantu dan ketakutan yang biasa-biasa saja. 20 tahun kemudian, Bayi Ajaib yang lain lahir. Bayi Ajaib ini tidak lahir dari hasil karya Tindra. Rako Prijanto mengadopsi film Tindra dan membuatnya kembali (Remake) dalam naskah drama. Bila semula naskah ini lahir dengan cerita sederhana, plot klise, dan cenderung lugas menyampaikan pesan, Bayi Ajaib dalam Rako Prijanto berbeda.

Rako Prijanto, entah terpengaruh apa, cenderung lebih menonjolkan aspek-aspek identitas keislaman. Memang pada Bayi Ajaib-nya Tindra, unsur keislaman hadir untuk mengusir roh jahat, dengan simbol Kyai, tasbih dan mantra pengusir hantu. Dalam karya Rako Prijanto, unsur ini seolah menjadi elemen penting, seperti kasus mantra pengusir hatun kutipan Ayat Kursi. Dibentuk secara dramatis, saya kira dari Bayi Terbang, Tahlil dan Mantra Pengusir Hantru Rako Prijanto lebih dramatis, mengedepankan dialog yang penuh emosi, dan lagi, merubah konstruksi utuh pada film pertama yang cenderung ingin menyampaikan pesan dengan lugas.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleTantangan Filsafat Bahasa dalam Belantara Postmodernisme
Next articleHukum Nasional Adalah Lembah Hitam, Atau Savana Subur?
Semilir.co adalah tempat menikmati segala hal seputar musik, film, dan buku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here