Ludruk

Ludruk merupakan teater rakyat yang dipentaskan berdasarkan lakon. Berbeda dengan teater kontemporer, naskah lakon ludruk tidak dibahasakan melalui teks, namun melalui lisan. Di dalam ludruk, tidak ada lakon yang ajek, setiap pementasan lakon selalu berbeda-beda, bergantung situasi dan kondisi. Lakon-lakon dalam pentas ini merupakan peristiwa-peristiwa sosial politik yang terjadi di masyarakat arekan pada masa penjajahan. Masyarakat arekan yang dimaksud adalah masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa gaya arekan berdasarkan peta dialektologi. Maka tak heran, bahasa dalam lakon-lakonnya terkesan kasar dan banyak umpatan terutama ketika memasuki babak perang. Konon, penciptaan lakon pentas kesenian ini pada awalnya diciptakan secara spontan dan disebarkan secara gethok tular oleh seniman sehingga sampai hari ini, sangat jarang kita temukan naskah lakon ludruk yang berupa bahasa teks.

Saya pernah berbincang dengan Simbah dan Bapak saya yang memang seorang seniman ludruk. Ludruk memang pernah sangat eksis di era penjajahan Belanda sampai pertengahan tahun 90-an. Simbah saya merupakan keturunan kedua pewaris grub yang bernama Taruna Wijaya, kemudian Bapak saya menjadi keturunan ketiga dan berganti nama menjadi Sangga Buwana. Kata Simbah, ludruk bukan hanya eksis sebagai kesenian rakyat yang merepresentasikan kehidupan masyarakat di era penjajahan, lebih dari itu. Kesenian ini juga merupakan perlawanan pribumi kepada bangsa Walanda yang dengan beringas menindas wong cilik. Berbeda dengan Simbah, Bapak saya malah menganggapnya justru sebagai ladang ekonomi. Memang saat Bapak saya menjadi seniman, kesenian ini sedang mengalami kenaikan drastis meski pada akhirnya pun mengalami penurunan yang cukup drastis pada awal tahun 2000-an.

Penurunan eksistensi kesenian ini disebabkan oleh berbagai macam hal. Hal utama adalah masuknya layar tancap secara masal ke kampung-kampung. Masyarakat yang awalnya menjadikan ludruk sebagai hiburan, beralih mencari hiburan yang lebih kekinian yakni menonton layar tancap. Selain itu, menurut Bapak saya, penurununan eksistensi kesenian ini juga disebabkan tidak adanya pembaruan kreasi dalam pementasan.

Saat ini, ludruk sudah benar-benar kehilangan peminatnya. Bahkan untuk menonton saja kita harus menunggu festival-festival kebudayaan yang diadakan oleh komunitas atau lembaga-lembaga tertentu. Cerpen-cerpen dalam buku Cerita dari Brang Wetan merupakan kepingan-kepingan lakon ludruk yang pernah eksis pada masanya.

Dadang Ari Murtono, penulis buku tersebut, secara apik menyusun kembali lakon-lakon yang memang sangat jarang dibahasakan secara teks oleh para seniman maupun para sastrawan. Pada esainya di halaman awal buku tersebut, Dadang Ari Murtono harus terjun langsung berbaur dengan seniman ludruk. Ia harus berdiri di balik tobong dan mencatat seluruh lakon-lakon yang dipentaskan. Dadang Ari Murtono tidak hanya sebatas menuliskan ulang lakon-lakon yang sudah ada. Ia bahkan mengolah lakon-lakon tersebut dengan alur baru dan elemen-elemen baru. Pengolahan tersebut menjadikan cerpen-cerpennya mempunyai kekuatan baru selain kekuatan estetis yang sudah menempel terlebih dahulu dalam lakon. Oleh karenanya, buku tersebut menjadi sangat penting untuk dokumentasi teks apabila beberapa tahun ke depan ludruk sudah benar-benar tidak ada.

Buku Cerita dari Brang Wetan tidak hanya menjadi wahana estetis. Bagi para pembaca yang hidup bersentuhan langsung dengan ludruk, bisa saja buku ini mampu memberikan wahana historis.

 

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleMadura dan Legenda Orang Sakti
Next articleRolland Barthes dan Fotografi
Ade Kurniawan. Lahir di Jombang, Kamis Kliwon 09 Januari 2003. Takdir membawanya untuk merawat pikiran di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Beberapa tulisannya kerap memenangkan sayembara dan dimuat di beberapa media daring, antara lain Sastramedia.com dan Gadingpesantren.id. Dapat disapa melalui akun Tiktok @ade_kurniawan_wedar_jawi dan instagram @ade_kurniawan_n.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here