Seluruh manusia membutuhkan ruang. Manusia membutuhkan ruang untuk mengumpulkan sumber daya, menemukan pasangan, dan melakukan layanan ekologis mereka.

Kemudian, manusia mesti berjarak dengan ruangnya sendiri agar terhindar dari aktivitas yang rutin dan menemukan arti baru dari hal yang lama, bertandang menuju tempat yang tidak pernah terjamah, menyelam lebih jauh ke palung jiwa, keseluruhannya semata-mata untuk mengenal diri sendiri.

Film pendek Aku Mencintai, Maka Aku Ada besutan sutradara Rarai Masae Soca Wening Ati mengambil narasi manusia dan jarak, kemudian membekukan beragam potret-potret manusia dan jarak.

Ayah (dimainkan oleh Iswadi Pratama) tengah merindukan kepulangan anak perempuannya dari negara rantauan. Dari sedikit adegan yang dimainkan dalam film, Ayah tampak tidak setegar Ibu (dimainkan oleh Imas Sobariah) manakala menanti kepulangan anak perempuan mereka. Dalam hal ini, sutradara tampak ingin menegaskan bahwa perempuan memang lebih hebat memendam dan mengendalikan luka.

Di antara kerinduan dan kegelisahan menantikan anak perempuan pulang, dengan pecinya yang melambangkan simbol religiusitas agama tertentu, Ayah tetap mentransfer doa dan harapan agar anak perempuan menemukan sesuatu yang dicarinya di negara rantau.

Situasi seperti di dalam film ini cukup familiar, bahwa kerap ditemukannya anak perempuan di negara rantauan. Manusia yang tidak terhitung jumlahnya berseliweran ke sana ke mari seperti burung gereja yang segera pulang di sore hari, bergerak menuju berbagai tempat yang tujuannya hanyalah untuk pulang, dan bercengkrama dengan keluarga masing-masing.

Setiap manusia memiliki cara berjalan yang berbeda manakala menuju rumah. Satu hal yang pasti: manusia bergerak, gerakan kemudian menimbulkan efek yang tidak beraturan. Efek yang tidak beraturan atau distorsif tersebut, turut ditampilkan oleh Rarai tidak hanya melalui para manusia yang berjalan, melainkan juga kamera. Hal haram dari dunia perfilman yang sudah teracuni oleh tren Hollywood.

Rarai menjadikan perjalanan anak perempuan menuju negara rantauan sebagai upaya untuk membongkar kemudian mengenali diri sendiri. Mencocokkan pengalaman, menabung perasaan pernah dan tidak pernah dirasakan, hingga mengabadikan momen yang belum tentu bakal dirasakan di rumah. Kerinduan anak perempuan–yang tidak tersampaikan, tapi terlihat–kepada orangtuanya, justru termaknai sebagai tindakan untuk lebih mengenali diri dan keluarga, serta rumah tempat ia berasal.

Sampai pada suatu simpang, orangtua anak perempuan tidak kuat menahan kerinduan, anak perempuan tidak kunjung pulang.

Anak perempuan dan orangtuanya, sebagai karakter dalam film, punya watak yang cenderung sama. Kesamaan antara keduanya seperti memberi fitur “hitam putih” bagi layar film yang berwarna.

Seperempat film ini dipenuhi monolog. Monolog yang hadir pun cenderung seperti puisi yang menyimpan kepuitikannya di ruang paling dalam, bukan permukaan. Kerinduan yang dominan makin mengiris dan tampak dalam gambar-gambar yang dihadirkan. Selain pada cerita dan karakter, kekuatan film ini memang bertumpu pada sinematografi.

Rarai menggarap setiap gambar dengan brilian, seperti puisi-puisi yang memendarkan sedikit demi sedikit gambar-gambar puitik serta natural. Dalam banyak sekuen, karakter diletakkan di sentral, hampir di seluruh tempat dalam film. Gambar-gambar tersebut seakan hendak menghadirkan kenyataan betapa setiap manusia yang pergi dari rumah selalu mengalami perjalanan yang sedih dan menggembirakan di saat yang bersamaan.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini