filosofi kolak
https://www.tribunnewswiki.com/2020/04/24/kolak

Kalau biasanya kita sering mendengar kata filosofi kopi, sekarang gantian yang akan saya bahas kali ini adalah filosofi kolak. Kolak merupakan minuman yang banyak dijumpai saat bulan Ramadhan. Minuman ini biasa diminum sebagai takjil berbuka. Terdapat banyak jenis kolak, misalnya kolak kacang hijau, kolak ubi, kolak nangka, kolak labu, dan kolak roti, meski yang sering dijumpai adalah kolak pisang. Minuman yang identik dengan kuah berwarna kuning kecoklatan ini tanpa banyak diketahui ternyata, mempunyai filosofi tersendiri.

filosofi kolak
https://www.tribunnewswiki.com/2020/04/24/kolak

Selasa malam, saya sengaja mengajak ibu dan kakak pergi ke Merdeka Street Food, salah satu wisata kuliner yang dibangun oleh pemerintah Kota Blitar dan baru diresmikan awal Maret lalu. Tempat ini sangat strategis dan mudah ditemukan karena letaknya yang berada di tengah kota. Mulai dari halaman depan, dekorasi ruangan, hingga tempat duduknya pun sangat identik dengan kota Blitar, yaitu berwarna merah dan hitam.

Berjalan ke pintu masuk, bola mata saya langsung sibuk memandang stan-stan penjual makanan dan minuman dari ujung ke ujung. Semakin malam, suasana di tempat ini semakin ramai. Meski begitu, keramaiannya tidaklah mengganggu. Justru bagi saya, dari situlah letak keindahan pemandangannya.

Target pasar membuat tempat ini ramai dipenuhi stan-stan yang menjual aneka jajanan hits atau kekinian. Sebaliknya, sulit bagi saya untuk menemukan stan yang menjual jajanan tradisional. Untungnya, saya menemukan satu stan yang menjual jajanan tradisional. Saya mengajak ibu dan kakak saya untuk membeli kolak roti.

“Jauh-jauh datang ke sini cuma buat beli kolak?” celetuk ibu saya.

“Lah iya. Gimana, sih, anak ini,” timpal kakak saya.

Saya hanya tertawa menanggapi keduanya. Sewaktu membeli kolak, kakak saya bertanya kepada si penjual. “Di sini selalu ramai ya mbak?”

“Iya mbak, lumayan,” jawab penjual kolak. “Yang jadi best sellernya ini lho mbak, es tape ketan. Gak mau coba sekalian? Tapi kalau kolak ini kebetulan masih nyoba,” jelas si penjual setelah melihat saya memegang satu porsi kolak yang telah dibungkus rapi.

Saya dan kakak mengangguk ringan kemudian berjalan mencari tempat duduk, dan akhirnya kami duduk di sisi paling selatan. Saya membuka percakapan setelah beberapa menit hening. “Buk, Ibuk tahu gak kolak itu ada artinya?”

“Tahu. Tapi bukan arti kolaknya yang ibu tahu. Melainkan arti bahan dasarnya,” jawab beliau.

“Maksudnya?”

“Misal kolak pisang kepok. Nah, pisang “kepok” itu dari kata kapok. Kapok/jera melakukan kesalahan. Tapi kalau orang zaman dulu, ada yang mengartikan lain juga. Contohnya saat acara pernikahan, biasanya terdapat pisang kepok sebagai salah satu perlengkapan atau dalam istilah Jawanya uba rampe. Nah, kepok dalam hal ini diartikan rezekinya agar tidak pok-pok atau tidak pas-pasan. Sementara, uwi/ubi itu termasuk pala pendhem, artinya,” jelas ibu panjang-lebar.

“Kalau itu aku tahu. Semua yang hidup pasti akan merasakan mati. Jadi, pendhem itu berarti nantinya kita dikubur. Maksudnya, agar kita selalu mengingat datangnya kematian,” sahut saya memotong penjelasan ibu.

“Bisa diartikan begitu, bisa diartikan lain. Ada yang mengartikannya sebagai “mengubur kesalahan”.  Tergantung pendapat setiap orang,” jawab ibu singkat.

Ternyata saat masih belum diolah, bahan dasar kolak sudah memiliki arti. Tetapi arti/filosofi saat bahan-bahan tersebut sudah diolah menjadi kolak akan berbeda lagi. Dilansir dari urbanasia.com kata kolak berasal dari kata “kholaqo” atau “khalik” yang artinya mencipta.

Dalam artian yang lebih luas, kolak dapat diartikan sebagai wujud pendekatan diri kepada sang pencipta. Selain itu, terdapat pendapat lain yang mengatakan bahwa kolak berasal dari kata “khala” atau kosong. Dalam artian ini, kolak merupakan perwujudan dari peleburan/ kekosongan dosa.

Menanggapi kalimat ibu di awal, tidak afdol rasanya jika tidak mencoba jajanan kekinian karena sudah di sini. Maka, setelah menghabiskan kolak roti, kami kembali berkeliling di satu stan ke stan yang lain. Saya pun memutuskan membeli hot seblak, setelah aromanya yang khas mampu menggoda melalui indra penciuman saya.

Sementara saya antre memesan seblak, kakak menghentikan langkahnya tepat di stan Siomaypitoe bermaksud membeli pempek, dan ibu di stan Kedai Kara untuk membeli ayam geprek. Akhir cerita, setelah semua makanan datang, kami pun saling berbagi dan menikmati makanan bersama.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini