kumparan.com
menghidupkan imajinasi menulis novel romance

Banyak yang bilang, bahwa pengalaman mengajarkan segalanya. Mengajarkan hal-hal riil maupun hal-hal yang sifatnya imaji. Benar saja, suatu ketika saat saya berpikir tentang bagaimana cara menulis cerita romance agar tidak monoton. Jawaban itu saya temukan dari penngalaman berdiskusi dengan teman-teman saya.

Suatu malam dengan cahaya lampu yang menyorot dari sudut ruang tengah, saya berbincang santai dengan teman-teman KKN. Kegiatan rapat malam, membuat posisi duduk kami melingkar kala itu. Salah satu teman kami membuka percakapan setelah beberapa menit hening karena memainkan gawainya masing-masing.

“Di sini ada yang gak punya pacar?” Sontak semua bola mata tertuju pada saya. Mungkin karena selama beberapa hari KKN ini, kami tinggal dan beraktivitas bersama, semua tahu kepolosan saya dan itu memang benar. Di tengah suasana yang penuh canda tawa, sebagai seseorang yang berjiwa penulis, saya pun memutar otak untuk menggali informasi kepada teman-teman terkait pengalamannya, yakni romance, berhubung romance sedang menjadi topik hangat malam itu. Melalui perbincangan kala itu, saya mendapat tiga poin terkait pengalaman riil yang dapat dijadikan sebagai bahan acuan dalam menulis cerita bergenre romance agar tidak monoton.

Pertama, buat karakter tokoh yang unik dan menarik kemudian kaitkan dengan kehidupan nyata. Misal dengan mendatangkan orang ketiga dalam tulisan romance yang kita buat. Hal tersebut akan membuat novel kita tampak riil karena banyak sekali konflik-konflik demikian di kehidupan nyata. Seperti yang dikatakan salah satu teman saya, “Beberapa kali aku gagal dalam hubungan cinta itu karena ada orang ketiga sih.” Akan tetapi, membuat jalan cerita yang demikian akan terkesan monoton, jika penulis tidak dapat mengolahnya dengan baik.

Solusinya, seorang penulis dapat membuat karakter dua tokoh utama itu menjadi karakter yang unik dan menarik, contohnya dua tokoh utama dalam novel You Are the Apple of My Eyes karya Gidden Ko yang telah digubah dalam bentuk film di beberapa negara, yakni tokoh Ko Ching Teng yang pemalas dan jahil, serta tokoh Shen Chia Yi yang cerdas dan rajin. Keduanya memiliki karakter yang jauh berbeda, namun akhirnya mereka bisa bersama. Orang ketiga bisa dihadirkan ketika hubungan dua tokoh utama sedang lost contact (masih dalam status pacaran), baru datanglah orang ketiga yang akhirnya memang menjadi pasangan dari salah satu tokoh utama.

Contoh lain dari novel dan film Indonesia yang legendaris adalah Dear Nathan. Tokoh Nathan yang diperankan Jefri Nichol memiliki sifat yang berkebalikan dengan Salma yang diperankan oleh Amanda Rawles. Nathan memiliki sifat yang jahil, nakal, dan memiliki prestasi yang tidak terlalu baik, sementara Salma bersifat ramah dan berprestasi. Keduanya memang dikisahkan berkonflik karena sifatnya yang tidak sama, namun di akhir cerita mereka bisa bersama.

Kedua, menonjolkan kelebihan tokoh. “Aku pribadi, tipikal orang yang suka punya pasangan, karena kita bisa saling melengkapi dengan kelebihan masing-masing”. Kalimat itu yang dikatakan teman saya ketika kami saling beradu argumen tentang “boleh tidaknya berpacaran”. Terlepas dari boleh atau tidak, pengalaman teman saya yang satu ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam menulis dan mengembangkan alur cerita bergenre romance. Kita sebagai penulis, bisa menonjolkan sisi kelebihan masing-masing tokoh, misal satu tokoh dalam hal profesi, dan tokoh lain dalam hal intelektual dan kepribadian.

Penulis dapat bercermin ke kehidupan nyata, bahwa semua orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dari ketimpangan dua karakter tersebut, penulis dapat membuat keduanya saling melengkapi, bukan malah berat sebelah dari awal hingga tengah cerita, dan tidak ada hal yang menarik di dalamnya. Hal tersebut dapat pembaca merasa bosan dan mandek di tengah-tengah membaca cerita.

Selain contoh yang telah disebutkan sebelumnya, penulis dapat juga mengeksplor lebih luas kehidupan profesi dari tokohnya, misalnya kehidupan profesi tokoh sebagai seorang dosen. Nah dari sini, pembaca akan merasa lebih lepas dalam membaca cerita kita karena pembaca tidak hanya melulu disuguhi dengan hal-hal yang berhubungan dengan cinta, namun juga memperolah wawasan dan ilmu baru seputar dunia pendidikan. Jalan cerita seperti ini bisa ditiru dari salah satu film Indonesia yang berjudul My Lecturer My Husband yang memiliki genre romance, namun juga membahas seputar dunia kependidikan karena tokoh utama prianya (Reza Rahardian) berprofesi sebagai seorang dosen.

Ketiga, membuat ending cerita yang tidak banyak digunakan/ tidak klise. “Eh, aku pernah lho, putus bukan karena ada orang ketiga, tapi karena aku ilfeel sama dia (pasangan).” Kata salah satu teman saya yang duduknya berjarak tiga jengkal dengan saya. Pengalaman teman saya ini dapat dijadikan rujukan dalam menulis cerita romance yang tidak monoton. Ending cerita kedua tokoh dapat diakhiri dengan adanya perasaan tidak suka yang dihadirkan di antara pasangan.

Dalam hal ini bukanlah rasa bosan, namun rasa tidak suka akibat dari hal/sikap aneh yang dilakukan masing-masing tokoh yang terus muncul seiring dengan berjalannya waktu yang tidak bisa ditoleransi oleh tokoh yang menjadi pasangannya. Tentunya, penulis harus pandai-pandai memunculkan sikap aneh tokoh, sedikit demi sedikit dari awal cerita sehingga sikap tersebut dapat dijadikan alasan berakhirnya hubungan romance di akhir cerita nantinya.

Contoh novel yang menarik menghadirkan ending cerita yang tidak klise adalah novel karya Azzura Dayana yang berjudul Altitude 3676.  Novel ini berhasil mendapat gelar sebagai novel dewasa terbaik IKAPI award tahun 2014. Ending cerita pada novel ini tidaklah klise, malahan jarang ditemukan ending yang demikian pada novel-novel dewasa pada umumnya karena novel ini menghadirkan ending menarik dengan terkuaknya pesan-pesan dan sifat misterius tokoh Raja Ikhsan yang berhasil dikuak tokoh Faras.

Nah, tiga hal di atas adalah tiga poin yang bisa saya peroleh dan simpulkan dari perbincangan malam itu yang dapat dijadikan acuan dalam menulis cerita romance agar tidak monoton. Dalam kehidupan ini, pengalaman dapat mengajarkan banyak hal, terlebih bagi seorang penulis karena melalui pengalaman, penulis akan mengerti dan menemui banyak perspektif dan sudut pandang untuk mengembangkan tulisannya.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleNovel Feminisme Berbahasa Indonesia yang Melegenda
Next articleJangan Jadi Procrastinator Kalau Kamu Tidak Mau Begini
Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Selalu menyukai dan menikmati apapun yang berkaitan dengan sastra.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here