Foto: Indah, semilir.co

Kursi-kursi berwarna sudah dijejerkan rapi di ruangan. Ruangan itu diterangi banyak lampu putih hingga menjadi cerah, secerah hari ini yang jatuh pada Kamis, tanggal delapan bulan sembilan di tahun 2022. Sejak pukul 09.00 WIB, ruang Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang telah didatangi oleh para peserta, pembicara, dan Intrans Publishing selaku pelaksana acara bedah buku berjudul Menjaga Identitas, Membangun Cinta Damai dan 100 Permainan Tradisional Papua.

Para hadirin yang memilih agar pagi harinya digunakan untuk menjalani aktivitas produktif, dengan antusias mengikuti kesempatan tersebut dan melebur dalam suasana.

Seluruh pasang mata menaruh perhatian pada MC yang membuka acara, kemudian dilanjutkan sambutan oleh Dr. H. Barnoto, M. Pd. hingga kemudian ucapan dari moderator yang mengundang para pembicara untuk maju duduk ke depan, tepatnya di atas sofa spotlight. Secercah ilmu dibagikan oleh sang penulis, yakni Dr. Toni Kogoya S.Pd., M. Pd..

Akademisi yang berasal dari tanah papua tersebut secara detail memaparkan materi pengajaran yang perlu dikantongi oleh setiap tenaga pendidik. Muatan materi mencakup pendidikan karakter yang sangat penting untuk anak-anak usia sekolah, mengingat banyak fenomena disrupsi perilaku yang marak hari ini.

Perbincangan fenomena di atas boleh jadi merupakan sebab akibat dari perkembangan zaman yang ditanggapi dengan latah. Sejurus kemudian, cinta damai disampaikan sebagai poin utama dalam highlight materi. Cinta damai dalam diri setiap anak manusia dapat menjadi bekal berkehidupan yang humanis. Tentu, cinta damai dapat ditanamkan dengan beragam cara.

Akan terasa sangat harmonis suatu kehidupan kelak, jika generasi saat ini ditanamkan rasa cinta damai. Oleh Toni Kogoya, permainan-permainan tradisional Papua dihadirkan dalam bukunya sebagai edukasi awal untuk mencapai keharmonisan dan cinta damai tersebut.

Tak sekadar untuk menghindari konflik dan perpecahan, upaya menghadirkan cinta damai juga mampu menumbuhkan semangat dalam pembejalaran di sekolah. Seperti yang dikatakan oleh Akhmad Mukhlis, S.Psi., M.A. selaku pembedah bahwa metode Pedagogy and Motor Behavior mencakup unsur-unsur emosional serta hubungan yang intens antar individu. Seharusnya metode tersebut yang menjadi refleksi para tenaga pedidik untuk menumbuhkan jiwa imajinatif dan kreatif untuk anak-anak agar fokus dalam kelas.

Cita-cita tersebut dapat dicapai dengan adanya permainan-permainan, olahraga, refreshing berkelompok yang menghasilkan output perasaan bahagia pada anak-anak. Buku 100 Permainan Tradisional Papua yang juga ditulis oleh Toni Kogoya dapat menjawab kebutuhan di atas.

Setelah dengan megah membawakan argumennya, kasus lain juga diberikan oleh pembedah Akhmad Mukhlis, S.Psi., M.A., yaitu saat anaknya yang duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD) sangat merasakan perbedaan yang signifikan antara jadwal pelajaran olahraga dan mata peajaran non-olahraga. Terlihat dari cara anak tersebut menyambut hari-harinya ketika berangkat dan pulang sekolah.

Hari ketika jadwal sekolah diisi dengan aktivitas olahraga dan ekskul membawa suasana riang yang terlihat dari air muka si anak. Sebaliknya, ketika jadwal sekolah diisi dengan mata pelajaran non-olahraga sepanjang hari, suasana hati dan air muka anak tidak lebih cerah dari hari dengan jadwal olahraga.

Sekelumit tanggung jawab yang kita pikul hari ini, tak lain demi mencapai kehidupan yang penuh cinta damai. Didikan penuh cinta damai yang dirangkai dengan permainan-permainan tradisional Papua khususnya, bisa diterapkan di manapun dan kapanpun.

Permainan tradisional tak jauh dari kesederhanaan. Artinya, permainan tradisional bisa dilakukan tanpa menggunakan alat sehingga dapat dimainkan hanya dengan tangan kosong.

Bedah buku Menjaga Identitas, Membangun Cinta Damai dan 100 Permainan Tradisional Papua terasa hidup dengan adanya tanggapan pertanyaan dari peserta. Respons dari peserta ditanggapi dengan hangat oleh para pembedah, juga penulis. Closing statement yang dilemparkan menjadi penanda bahwa acara bedah buku telah berakhir.

MC segera menutup acara dengan sigap dan singkat. Waktu menunjukkan pukul 11.30, tanda bahwa matahari telah tinggi dan cuaca sudah mulai sangat terik. Kursi-kursi berwarna yang sejak pagi diduduki para hadirin, satu per satu mulai ditinggalkan.

Previous articleAjang Penghargaan: Antara Pasar Seni dan Panggung Drama Kebudayaan
Next articleSepotong Rujak
Semilir.co adalah tempat berbagi wawasan dan menikmati segala hal seputar buku, film, dan musik | Dibaca saat santai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here