Sumber foto: Kompas.com

Pekarangan mini menjadi penyambut bagi pengunjung museum. Bangunan yang merupakan rumah Munir itu terletak di Kota Batu. Sebuah patung setengah badan tanpa lengan dipajang di samping sebuah papan informasi. Pria itu bernama Munir yang dikenang karena keberaniannya menegakkan HAM hingga akhir hayatnya. Kenangan jejak perjuangannya itu diabadikan di Museum Omah Munir.

Melewati ambang pintu museum, di sisi kiri ruangan netra akan menangkap poster foto Munir yang berukuran cukup besar. Tak hanya itu, terdapat sebuah meja yang telah menemani Munir dalam mengerjakan pekerjaannya.

Sumber foto: Indah Amellia/Semilir.co (Paspor Munir)

Sementara di sisi lain ambang pintu, penjelasan mengenai awal perjalanan seorang Munir dilapisi kaca menghiasi dinding abu. Kisah seorang buruh bernama Marsinah juga ikut menjadi informasi yang seolah ditujukan untuk dunia. Papan informasi itu melebihi tinggi manusia normal, dengan penerangan yang remang.

Di dinding sisi lainnya, lukisan ilustrasi dari 13 tokoh aktivis yang menghilang menjelang reformasi dapat disaksikan dengan sangat jelas. Dari ketiga belas orang tersebut, terdapat beberapa orang yang tidak memiliki ilustrasi dengan hanya menorehkan tanda tanya, ada juga tanggal kelahiran yang tidak diketahui.

- belanja buku di sini -
Sumber foto: Indah Amellia/Semilir.co (13 aktivis yang menghilang)

Berbagai informasi seputar perjalanan Munir dalam membela Hak Asasi Manusia mengisi setiap papan informasi di museum itu. Di pojok ruangan, dengan nama Aceh Corner, memuat informasi seputar peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi di Aceh. Papan informasi tersebut diberi judul Peristiwa-Peristiwa Penting Sejarah Pelanggaran HAM di Aceh, yang menyajikan detail kronologi peristiwa.

Menjelajah ke sisi lain dekat Aceh Corner, sebuah papan informasi berjudul Jalan Hidup Sang Pejuang HAM berisi tentang riwayat hidup Munir. Dari sejak dirinya baru dilahirkan di dunia, sampai tragedi pembunuhan atas dirinya yang sampai saat ini tidak mendapatkan keadilan.

Di sisi lain ruangan, sebuah rak setinggi perut berdiri tegak. Memamerkan beberapa barang yang pernah dipakai oleh Sang Munir, seperti pakaian almamater, tas kerja, jam tangan, kartu identitas, bahkan paspor miliknya. Semuanya disusun dan dipajang dengan rapi, lengkap dengan deskripsi dari setiap barang. Terdapat juga sepatu yang pernah dipakainya, juga patung setengah badan tanpa lengan dari Marsinah, sang buruh yang mengalami kematian yang sangat tidak adil.

Sumber foto: Indah Amellia/Semilir.co (Sepatu Munir)

Berbagai usaha dan perjuangan terhadap HAM memenuhi masa hidupnya. Hal itulah yang membawanya sampai pada maut yang tidak pernah disangka-sangka. Museum yang dipelopori dengan alasan agar tokoh HAM itu tetap dapat dikenang dan diketahui oleh mereka yang tidak sempat mengenalnya, memiliki manfaat edukasi yang begitu penting terhadap tokoh pejuang HAM di Indonesia yang namanya begitu besar pada masanya.

Selamanya Munir akan hidup di kalangan mereka yang berjuang untuk HAM. Kematiannya tidak membuat orang-orang lupa akan jasa-jasa yang telah dilakukannya untuk menegakkan HAM sekeras-kerasnya.

Anda belum pernah ke Museum HAM Munir dan ingin mengunjunginya, tapi masih bingung soal transport? Jangan cemas, Antaraya Tour and Travel solusinya!

Antaraya Tour and Travel ialah jasa rental dan tour guide yang bisa menemani Anda dalam menjelajah wisata alam pun non-alam di Jawa Timur, khususnya Malang Raya (Kota Batu, Kota Malang, dan Kabupaten Malang). Beragam jenis wisata menjadi pilihan untuk Anda jelajahi, mulai dari Heritage Malang, Fun de Situs, Susur Kampung, dan Fun de Museum yang dapat mengantar Anda langsung ke Museum HAM Munir!

Tenang saja, Anda tidak akan kecewa menggunakan jasa ini. Antaraya Tour and Travel menawarkan jasa profesional dan kapabel. Untuk selengkapnya Anda bisa menghubungi Antaraya dengan mengunjungi website resminya atau media sosial Instagram @antarayatour.

Tunggu apa lagi? Yuk, ikuti tapak jejak Sang Munir bersama Antaraya!

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous articleSkena Dangdut (Koplo) Indonesia
Next articleRibetnya Pekerjaan Guru dan Catatan Praktik Lapangan Lainnya
Penikmat film, musik, dan buku tertentu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here