Tragedi 65

Saat Jagal: The Act Of Killing rilis pada tahun 2012, pintu bioskop ditutup. Film ini ditolak tayang dalam layar lebar lantaran kekerasannya dinilai banal. Cerita, visual, dan banyak aktivitas rekonstruksi tragedi 65 di Kawasan Sumatera Utara yang memiliki unsur mendorong penonton turut melakukan kekerasan lanjutan. Dalam naskah tragedi 65 dalam film, Jagal sebagai narasi dokumenter, mampu menguak peristiwa 65 secara lugas. Film ini, mampu menarik batas gambaran yang jelas dengan film G30S/PKI hasil sutradara Arifin C. Noor.

Dalam film G30S/PKI , dana produksi sepenuhnya berasal dari Perum Produksi Film Nasional (PPFN). Pada waktu itu, perum ini dikepalai oleh Brigjen Gufran Dwipayana (Dipo), staf daripada Presiden Soeharto. Soeharto sendiri masih diragukan, apakah memang film ini dibentuk atas prakarsa dirinya, atau inisiatif dari Dipo. Dalam buku Soeharto: The Untold Story , Soeharto hanya mengungkapkan bahwa dirinya menilai film itu bagus. Sementara dari Sutradara, berdasarkan keterangan Jajang C. Noer, penata musik film itu, mengungkapkan lahirnya film ini, kurang lebih seperti Dipo membeli jasa agar film itu dibuat. Sementara Jajang sendiri menilai, apa yang menjadi narasi cerita film ini, antara lain ia meyakini memang dibentuk untuk generasi berikutnya menilai bahwa PKI itu jahat.

Sebagian besar pengamat, tetap saja menganggap film ini adalah alat propaganda Rezim Orde Baru. Propaganda macam apa, maksudnya, bukankah sejak kebangkitan sinema di Indonesia sedari film Darah dan Doa , Usmar Ismail , film selalu lekat dalam aktivitas propaganda politik. Kendati Usmar Ismail merupakan kasus lain. Sama seperti polemik kebudayaan dalam bidang Sastra, Film sebagai bagian yang sudah lekat dari medium narasi kebudayaan pula mengalami polemik. Dalam rentang tahun 64-65, fragmen dalam layar film, statusnya mirip seperti proksi war perang dunia. Usmar Ismail, pada suatu waktu, pernah menggarap film Pejuang, misalnya, yang berhasil memperoleh penghargaan dari Moskow. Sementara waktu yang lain, Usmar Ismail juga menerima Piagam Wijayakusuma dari Soekarno.  Kasus ini serupa, menulis puisi tentang Dewa, tapi menerima penghargaan Bakrie, dalam konteks tertentu misalnya.

Usmar Ismail adalah gambaran di masanya. Ia, seorang seniman yang dihimpit dua benturan ideologi yang keras. Hal ini pula, yang membuat Usmar Ismail menjadi ketua Lesbumi dan merapat ke rekan kerja satu generasinya, Asrul Sani, penulis naskah Lewat Djam Malam. Ideologi politik, atau menyitir dari Aidit, dengan slogan Politik Sebagai Panglima seringkali riskan dipelintir dalam praksis politik yang cenderung dogmatis. Ihwal ini, barangkali yang kurang disukai oleh Usmar Ismail. Tentu saja, pada masanya, Usmar Ismail telah menyentuh film-film yang diimpor dari Hollywood dan atau Australia. Kerja keras Usmar Ismail hanyalah bagaimana menyajikan film yang bagus, sebagaimana sandiwara panggung yang baik.

Interaksi film-film dari luar Indonesia, Amerika contohnya, sebenarnya sudah cukup banyak menguasai wangsa pasar dunia layar lebar Indonesia. Salah satu yang mampu menjelaskan ini antara lain film Jagal: The Act Of Killing. Anwar Kongo, salah seorang partisan Pemuda Pancasila, yang dikenal sebagai raja jalanan sekitar sering melihat film-film country ala koboy berjalan menyusuri gurun, lengkap dengan fedora, kemeja dililit sabuk, serta pistol di atas saku. Orang-orang yang dianggap terafiliasi dengan PKI, atau yang ditandai simpatisan, ia sekap di atas rooftop rumah, diikat, dipecut, dibunuh, dengan cara-cara membunuh ala koboy membunuh lawan. Bahkan Kongo dengan bangga menjelaskan satu cara membunuh dengan memenggal kepala yang diikat di kawat, dengan kondisi kaki dipasung.

Jagal mampu mendobrak. Hanya saja, sebelum itu, sebetulnya Garin Nugroho sudah memulai dalam film Puisi Tak Terkuburkan. Film ini, mengisahkan tentang tokoh seorang penyair aceh dan pegiat sajak-sajak Didong ala aceh, semacam tembang ala Jawa yang dibui dengan alasan sama: simpatisan PKI. Film ini, mengisahkan keseharian Ibrahim Kadir dalam proses kreatifnya menulis sajak, yang sebagaimana ditampilkan oleh Garin, aktivitas kreatif Ibrahim membuat sajak, seperti aktivitas menyeluruh dalam ekspresi hidupnya. Pada adegan dalam rumah, kamp penampungan simpatisan, diperlihatkan kepiawaian Ibrahim menulis sajak merekam apa yang terjadi dalam kamp tersebut. Salah satunya adalah sajak yang menceritakan, dua pasangan anak-ibu yang tak mengerti kejadian, dibawa keluar kamp, lalu ditembak secara beruntun. Ibu dan si bayi itu, mati bersamaan dengan lubang di dada.

Apa yang membedakan Jagal , G30S/PKI, dan Puisi Tak Terkuburkan?. Perspektif kerelatifan tragedi 65. Persoalan pelik, traumatik, dan absurd dari Bangsa Indonesia. Simposium 65, sebagai program Nawacita Jokowi, sebagai upaya rekonsiliasi kasus pelanggaran HAM memang sudah dilakukam. Tetapi, apa yang hadir ketika simposium, tidak menjelaskan secara jelas, misalkan, seperti yang dijelaskan oleh Puisi Tak Terkuburkan. Penjelasan mengenai, apa yang terjadi di Jawa-Bali, berbeda dengan kasus yang ada di Aceh. Sambil mengutip orang Winangun, warga dari ujung Trenggalek, yang jahat itu PKI pusat, yang sini enggak. Demikian letak Puisi Tak Terkuburkan dalam sinema 65.

 

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous article100 Manusia Pertama Yang Selamat Setelah Hari Kiamat Tamat
Next articleMarlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak Dalam Bingkai Kekerasan
Semilir.co adalah tempat menikmati segala hal seputar musik, film, dan buku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here