Apresiasi Karya Sastra
Sumber Foto: Semilir.co (Yusri fajar di malam apresiasi)

Apresiasi sastra dibutuhkan untuk memantik gairah berkarya khususnya di dunia sastra. Sebuah acara bertajuk “Menumbuhkan Karya Sastra di Era Digital” dilaksanakan pada jumat, 9 September 2022, berlokasi di Toko Kopi Koopen Kota Malang. Kesitimewaan dari acara tersebut, adalah karena kehadiran Yusri Fajar, seorang penulis, dan Redy Eko Prasetyo, seorang seniman sekaligus penggagas dari Kampung Cempluk. Kehadiran kedua tokoh tersebut tidak lain adalah untuk menerima penghargaan atas kontribusi dan pencapaian yang begitu membanggakan.

Zaman yang semakin canggih membuat berbagai hal menjadi mudah dilakukan. Salah satunya adalah digitalisasi. Siapa sih yang zaman sekarang nggak punya alat canggih bernama ponsel pintar? Kini, semua bisa kita ketahui dan lakukan hanya dengan mengutak-atik benda pipih tersebut. Salah satunya adalah menemukan karya sastra para seniman, penulis, dan pegiat sastra.

Acara yang digelar untuk memperingati Hari Aksara itu resmi dibuka oleh Khadijah, sang pembawa acara, saat hampir pukul 8 malam. Majelis Daerah KAHMI Kota Malang sebagai pelaksana acara tersebut membuat sebagian besar pesertanya adalah anggota KAHMI.

Setelah pembukaan dari presidium KAHMI, Luthfi J. Kurniawan, pembacaan puisi oleh Nanang, penyair FE Universitas Brawijaya, menyambut para peserta. Tidak hanya itu, pembacaan puisi kembali dilakukan oleh Andi Agus Subroto, yang membacakan puisi ciptaan Bung Karno sendiri dengan tajuk “Aku Melihat Indonesia”.

Dibalut dengan keremangan lampu yang melintang di atas kepala para hadirin, inti acara akhirnya tiba. Pemberian penghargaan kepada Yusri Fajar selaku penulis dan Redy Eko Prasetyo selaku seorang seniman berlangsung dengan khidmat. Tak lupa momen berharga tersebut diabadikan oleh fotografer yang selalu siap dengan kamera digital yang menyertai.

Tidak hanya itu, orasi budaya turut disuarakan oleh Yusri Fajar. Berisi proses kreatif sang penyampai, seorang penulis yang sekali lagi saya sebutkan, adalah peraih penghargaan Pemenang III Sayembara Kritik Sastra DKJ 2022 itu juga sekaligus menyampaikan refleksi diri dari seorang Chairil Anwar, penyair terkenal di dunia kesusastraan yang diharapkan dapat mendobrak tradisi konvensional dunia kesusastraan.

Sajak-sajak ciptaan Chairil Anwar sebagian besar tidak hanya menempatkan manusia sebagai objek utama dan pusat dari kacamata jiwa sastrawan pada dirinya, melainkan mengagungkan alam sebagai entitas superior, Yusri Fajar mulai berorasi. Sebagian besar orasinya yang disampaikan memang benar- benar merupakan sebuah refleksi diri, yang bisa diikuti oleh siapa saja yang mendengarkan.

Salah satu hal yang diketahuinya tentang Chairil Anwar saya ingat disampaikan pada malam hari itu, bahwa Chairil Anwar tidak pernah membayangkan hidup yang sempurna. Hal itu tercermin dari sajak-sajaknya yang banyak melantunkan tentang alam yang tidak ideal.

Ungkapan yang digunakannya sebagai penutup orasi budaya di tempat yang kental dengan para pengagum sastra itu, cukup melekat di ingatan saya. “Sekali berarti, sesudah itu mati.” Kalimat dengan penafsiran yang dapat dilakukan dari berbagai sudut pandang.

Sebelum jarum jam menunjukkan angka yang semakin larut, Yusri Fajar menggantikan orasinya dengan pembacaan puisi “Di Negeri Bekas Penjajah Aku Menemukan Dirimu” dan iringan dari Redy menggunakan alat musik ciptaannya sendiri, Dawai Cempluk namanya. Salah satu prestasi penggagas Kampung Cempluk itu, adalah menciptakan sebuah alat musik. Dinamakan Dawai Cempluk sebab dawai-dawai bermelodi indah yang menjadi sumber bunyinya. Keduanya menciptakan sebuah musikalisasi puisi yang begitu memukau. Seakan penampilan duet keduanya adalah yang ditunggu-tunggu.

Kehadiran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang juga ikut meramaikan acara, dengan Ibu Handayani yang ikut memberikan sepatah dua patah kata. Bahkan, Sejarawan Dwi Cahyono semakin membuat acara semakin “pecah”. Dosen Universitas Negeri Malang itu memberikan monolognya tentang perkembangan kesusastraan di Kota Malang.

Sayang seribu sayang, acara harus tiba di penghujungnya. Sang pembawa acara yang setia menemani runtutan acara dengan resmi menutup acara pada pukul 9.15 malam. Meski begitu, diskusi ringan dan informal mengenai tajuk acara “Menumbuhkan Karya Sastra di Era Digital” yang ditemani oleh Redy Eko Prasetyo, Yusri Fajar, Ibu Handayani, dan Dwi Cahyono tetap dapat dinikmati sebelum malam itu benar-benar berakhir.

Previous articleMemacu Minat Baca Kaum Rebahan
Next articleSoekarno dan Semangat Re-Thinking Islam
Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang yang sebentar lagi lulus, aamiin!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here