Viral
Sumber foto: infobisnis.id

Media sosial saat ini bukan hanya sekadar tempat untuk membagikan aktivitas, video, maupun foto—tapi sudah melangkah lebih jauh—yakni berburu viral atau ketenaran. Masifnya media sosial dalam melakukan penyebaran, membuat sesuatu yang baru dibagikan itu cepat viral.

Misalnya, beberapa waktu lalu heboh soal Citayam Fashion Week. Berawal, dari viralnya video wawancara seorang remaja tanggung di media sosial, kawasan Dukuh Atas—lokasi Citayam Fashion Week—kini menjadi buah bibir dan orang-orang berbondong-bondong ingin pergi ke sana.

Ada berbagai tujuan orang-orang pergi ke kawasan Dukuh Atas mulai dari sekadar ingin berswafoto untuk diunggah ke media sosial sampai melakukan aksi fashion show di jalanan demi bisa ikut viral. Ya, demam Citayam Fashion Week menjadikan banyak orang “latah” ingin viral.

Siapa sih yang nggak mau terkenal? Kalau terkenal kan bisa kebanjiran endorse dan pemasukan makin bertambah. Ya ‘kan?

Demi bisa viral, seseorang rela melakukan apa saja meski harus mengorbankan nyawa. Seperti yang dilakukan sekelompok remaja, demi membuat konten di media sosial, mereka sampai nekat menghadang truk yang sedang melaju. Benar-benar tak takut mati. Mungkin, punya sembilan nyawa kali ya macam kucing. Jika baru mati sekali, masih punya cadangan delapan nyawa lagi.

Jujur, saya sih miris melihat aksi sekelompok remaja itu, demi berburu viral atau ketenaran di media sosial mereka sampai tidak memperdulikan keselamatan diri sendiri bahkan juga orang lain. Bukan hanya mereka yang harus menanggung imbasnya, tetapi juga para pengguna jalan lain. Karena, aksi mereka bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Jika sampai jatuh korban, lantas siapa yang akan bertanggung jawab? Coba kamu pikir dong!

Sebenarnya hal ini terjadi disebabkan karena kita “latah” saat melihat sesuatu yang sedang viral di media sosial. Jika belum ikutan hal yang sedang viral, kita merasa jadul dan ketinggalan zaman banget. Belum lagi, jika melihat orang lain viral dan banjir tawaran endorse, kita pun tergiur ingin seperti mereka.

Sialnya, terkadang kita “menghalalkan” segala cara agar konten itu bisa cepat viral. Mulai dari melakukan aksi berbahaya di jalanan hingga membuat konten berbau prank. Semua itu dilakukan demi mendapat views, like, and share yang besar sehingga konten itu akhirnya viral dan menjadi perbincangan di jagat maya. Begitu, ‘kan yang kamu pikir?

Ada satu kisah lagi yang bisa kita jadikan pelajaran, seorang Youtuber mencoba membuat konten prank perampokan. Sontak, hal itu membuat orang panik dan histeris. Nahas, sang Youtuber justru tewas tertembak oleh salah seorang warga. Warga tersebut menganggap kalau sang Youtuber adalah orang jahat dan ia melakukan penembakan itu demi menjaga diri dan orang lain. Kejadian ini terjadi di Amerika Serikat.

Meski terjadi di Amerika Serikat, kita bisa mengambil pelajaran untuk tidak sembarangan dalam membuat konten. Sang Youtuber mungkin berpikir konten prank perampokan yang akan ia buat bisa viral. Namun, sebelum konten itu selesai dibuat, ternyata maut sudah menjemputnya. Malang sekali nasib Youtuber itu!

Hanya demi sebuah ketenaran di media sosial, seseorang harus meregang nyawa. Memang ketenaran membuat orang menjadi “gelap mata”—rela melakukan apapun demi bisa mendapatkan ketenaran.

Namun, apakah ketenaran yang didapat setara dengan hilangnya nyawa seseorang?

Tak ada harga yang setimpal dengan nyawa manusia. Seharusnya dari kejadian ini kita bisa belajar bahwa ketenaran atau keviralan terkadang bisa berbahaya dan mengancam nyawa jika kita melakukan segala cara demi berburu viral di media sosial.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini