Profesi
Sumber foto: Indozone.com

“Apapun profesi di dunia ini bisa bikin stress. Ga ada yang bilang ketika lu tau passion lu hidup jadi surgawi, engga. Tetep ada capeknya, tetep ada bosennya, tapi setidaknya capeknya lu suka.”

Sebuah kalimat yang diungkapkan oleh Pandji Pragiwaksono dalam salah satu tayangan YouTubenya rasanya tepat diamini. Sebab, tidak peduli seberapa suka kita dengan pekerjaan (profesi) yang dijalani, pasti ada masa-masa lelahnya, penatnya, bahkan stressnya.

Pernah dengar ungkapan yang berbunyi, “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau?” Dalam dunia pekerjaan pun pasti demikian, akan hadir pula masa di mana kita merasa pekerjaan orang lain begitu menggiurkan, sedangkan pekerjaan sendiri begitu melelahkan dan mengecewakan.

Baru-baru ini, aku menyadari betapa pentingnya mengenali diri dan potensi yang dimiliki. Bermula dari perjumpaanku dengan seorang seorang ibu-ibu yang kurang lebih usianya sekitar 45-an. Ia seorang dari keluarga kurang mampu, tak ada kendaraan untuk mencari kerja di tempat yang jauh.

Maka, untuk menambal kebutuhan hari-harinya, ia tengah mencari pekerjaan yang di sekitar rumahnya. Hingga akhirnya dapat jua. Sebuah pekerjaan yang harusnya sederhana saja, menjaga toko sepaket dengan bersih-bersihnya.

Namun rupanya, semakin dijalani, semakin tak sesuai ekspektasinya. Pekerjaan atau profesi yang harusnya sederhana itu, baginya terasa memberatkan dan melelahkan. Lagi, seperti sebelumnya ia membayangkan pekerjaan lain, berekspektasi dengan segala kriteria yang diharapnya dapat terpenuhi.

Meski banyak kudengar orang beranggapan ini dan itu, aku tak ingin turut menghakimi, pun tak ingin pula mengomentari. Sebab masing-masing orang memang punya hak untuk mempertimbangkan dan memutuskan jalan hidupnya. Maka biarlah ia dengan pertimbangan dan keputusannya.

Hanya saja, ada hal penting yang wajib untuk disadari oleh seorang yang masih seumur jagung sepertiku yang sangat ingin kuungkapkan. Tentang pendidikan hari ini dan pekerjaan di kemudian hari.

 

Pendidikan Hari Ini

Sumber foto: Kompasiana.com

Jika membahas tentang pendidikan, tentu yang menjadi fokus utama adalah tujuan dari pendidikan itu sendiri. Mengapa pendidikan menjadi hal yang penting bagi seorang manusia? Serta apa akibatnya jika pendidikan itu terhenti atau tidak dijalani sama sekali?

Sebelum membahasnya, perlu digaris bawahi bahwa pendidikan yang dimaksud di sini bukan saja tentang pendidikan formal di suatu lembaga pendidikan. Namun mencakup aspek yang luas.

Sebagaimana KBBI menerangkan arti dari kata pendidikan, yaitu “Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.”

Pada dasarnya setiap yang kita alami dalam kehidupan adalah sebuah pendidikan, sejalan dengan ungkapan “Pengalaman adalah guru terbaik.” Maka setiap pengalaman yang didapat itu akan membuat kita memahami hal baru, belajar dari kesalahan masa lalu, atau mengulang sebab kesuksesan dengan formula baru. Trial and Error pun menjadi tak terelakkan dalam proses kehidupan.

Tak ubahnya dengan hal ini, I Wayan Cong Sujana dalam tulisannya yang berjudul Fungsi dan Tujuan Pendidikan Indonesia (2019) menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses berkelanjutan dan tak pernah berakhir (never ending proces).

Jika kita menilik Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka akan kita dapati aneka fungsi pendidikan. Bagiku membacanya saja sudah membuat kepala pening, apalagi menerapkannya.

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,Berakhlak mulia,sehat,berilmu,cakap,kreatif,man diri,dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Iya kan?

Kalau boleh diringkas, inti dari yang sebenarnya adalah untuk mewujudkan atau mengembangkan potensi dalam diri seorang manusia. Carl Rogers mengungkapkan bahwa ketiadaan kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensinya dapat memicu terjadinya perilaku menyimpang. Lebih lanjut ia juga mengungkapkan bahwa motif dasar manusia untuk mengembangkan potensinya, yaitu aktualisasi diri, mempertahankan dan mengembangkan diri.

Dari sini, kita akan menyadari betapa pendidikan kita hari ini tak harus melulu soal nilai sempurna dan gelar sarjana. Namun dalam proses pendidikan yang dijalani, kita harus mampu menemukan cara untuk mengembangkan potensi diri. Tentu dengan cara mengenalinya terlebih dahulu, baru setelah itu mengaktualisasikannya.

Mungkin, cukup tepat jika dikatakan sebagai “fase pencarian jati diri”. Tentunya istilah ini tidak saja dapat disematkan hanya pada para remaja saja, namun untuk semua kalangan. Bahkan yang sudah berumur pun masih mencari-cari potensi apa dalam dirinya yang dapat diwujudkan dan dikembangkan.

 

Pekerjaan di Kemudian Hari

Sumber foto: ,ateri Konseling

Entah, apakah ini pelabelan yang tepat ataukah tidak. Hanya saja, yang kusadari adalah semakin bertambah umur seseorang, semakin minim waktu yang dimiliki untuk mempelajari sesuatu. Aku membayangkan ketika aku menjadi ibu-ibu 45 tahunan yang kutemui itu, andaikan sedari muda pendidikan bukan menjadi hal yang penting, maka mungkin di masa tua, tidak akan banyak pilihan yang kumiliki.

Dalam hal profesi, pilihan akan begitu terbatas. Seperti sebuah perjudian, bisa jadi dapat jackpot, sebuah pekerjaan yang menyenangkan, rekan kerja atau bos yang baik dan jalan karir yang begitu menanjak. Tapi, bagaimana jika sebaliknya?

Jika profesi yang didapat begitu tidak memuaskan dengan gaji kecil dan pekerjaan yang melelahkan, belum lagi kalau bos galak atau rekan kerja yang menyebalkannya setengah mati, lalu karir pun begitu-begitu saja tak ada perkembangan. Sementara kemampuan yang dimiliki memang minim.

Betapa menyebalkannya, ketika kita hidup dengan pilihan-pilihan yang terbatas di usia tua namun dengan tuntutan kewajiban yang tiada habisnya.

Dari sana, membuatku merasa bahwa di masa muda, aku harus belajar banyak hal, mencari bidang mana yang kusukai, dan mendalaminya sebaiknya mungkin. Mencoba sesuatu yang sebelumnya sama sekali asing bagiku, atau memulai sesuatu yang tak pernah kuketahui sebelumnya. Semua itu agar kelak di masa tua, aku memiliki banyak pilihan yang bisa kutempuh, tanpa mengorbankan terwujudnya potensi diri demi memenuhi tuntutan kewajiban yang tiada habis.

Ya, sebenarnya panjang lebar pembahasan dalam tulisan ini, aku hanya ingin menyampaikan, raihlah pendidikan sebaik mungkin di hari ini, agar kelak dapat menjalani profesi yang mendukung terwujudnya potensi diri. Bukan bekerja sekedar tuntutan gaji.

Beli Alat Peraga Edukasi Disini
Previous article2 Komposisi Ludwig van Beethoven yang Paling Banyak Didengarkan
Next articleMenengok Sastra Anak di Indonesia
Dwi Wahyuningsih, seorang perempuan yang lahir di Kab. Grobogan pada September 2002 dan besar di Kab. Kudus. Menggemari dunia literasi dan suka belajar hal baru, karena tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here